Wapres Nilai Badan Layanan Umum Dibutuhkan untuk Tangani Limbah Medis Isoman

  • Whatsapp
Wapres Nilai Badan Layanan Umum Dibutuhkan untuk Tangani Limbah Medis Isoman
Wakil Presiden Ma'ruf Amin [Foto-setkab]

Monitorindonesia.com – Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mendapat keluhan dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X perihal limbah medis (B3) dari pasien terinfeksi virus corona (Covid-19) yang menjalani isolasi mandiri (isoman) yang belum bisa dipantau oleh pemerintah DIY.

“Yang kami punya problem besar itu untuk B3, di isoman, Bapak. Kalau di rumah sakit dan sebagainya tidak ada masalah. Tapi di isoman ini,” kata Sri HB X dalam siaran pers Setwapres RI, dikutip Kamis (29/7/2021).

Bacaan Lainnya

Sri HB X kemudian memaparkan data persebaran Covid-19 DIY yang diklaim mengalami penurunan di pusat keramaian, di tempat wisata perbelanjaan turun menjadi 38 %, tempat rekreasi 29 %, stasiun/bandara 70 %, perkantoran 25 %.

Namun, lanjut Sri HB X, terjadi kenaikan di sekitar lingkungan perumahan yang dikhawatirkan akan menimbulkan klaster baru di lingkungan tempat tinggal.

“Ini faktual ya, memang berpindah dari jalan masuk ke rumah. Tapi ternyata belum tentu tinggal di rumah, mungkin dari luar desa, masuk ke desa, atau kongko bukan di rumah, berbincang ke rumah tetangganya,” terang Gubernur DIY.

Menanggapi hal tersebut, Wapres Ma’ruf Amin memberikan beberapa pandangan terkait jalan keluar masalah yang dihadapi Gubernur DIY dan meminta agar masalah limbah medis pasien isoman menjadi perhatian khusus.

“Mungkin ada semacam BLU (Badan Layanan Umum) atau apa yang menangani. Karena itu saya minta nanti Pak Gubernur untuk berkoordinasi. Sebab, masalah limbah ini menjadi masalah sangat penting harus diatasi,” kata Ma’ruf.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono menilai, perlu dilakukan penyemprotan disinfektan secara menyeluruh dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dalam menangani barang-barang infeksius yang ditemukan.

“Disinfektan yang harus dilakukan secara berkala pada tempat-tempat yang cenderung infeksius. Kemudian juga dengan fasilitas APD dan fasilitas-fasilitas lain yang sudah merupakan barang infeksius,” imbuhnya.

Pos terkait