Dua Tambang Nikel Tersangka Asabri Bernilai 1,5 Triliun

  • Whatsapp
Dua Tambang Nikel Tersangka Asabri Bernilai 1,5 Triliun

Monitorindonesia.com – Febrie Adriansyah Direktur selaku Penyidikan Jaksa Agung Muda bidang Pidana Khusus pada Kejaksaan Agung, menyebutkan telah menerima hasil perhitungan sementara nilai kandungan tambang nikel milik tersangka Heru Hidayat. Dia sampaikan, dua tambang nikel yang disita dari tersangka dugaan korupsi di PT Asabri (Persero) yang terletak di Sulawesi dan Kalimantan itu senilai Rp1,5 triliun.

Total luas tambang nikel milik Heru Hidayat mencapai 23.000 hektare (ha). Rinciannya, lahan tambang nikel atas nama PT Tiga Samudra Perkasa seluas 3.000 ha, lahan tambang nikel atas nama PT Mahkota Nikel Indonesia dan PT Tiga Samudra Nikel, masing-masing seluas 10.000 ha.

Bacaan Lainnya

“Sudah ada hasilnya sementara Rp1,5 triliun. Realnya berapa kita belum terima surat resminya. Tapi kita tunggu pengumuman resmi dari Kementerian ESDM,” kata Febrie kepada Monitorindonesia.com, di Kejaksaan Agung, Jumat (19/3) malam.

Kata Febrie, meski tergolong besar, nilai tambang milik Heru yang juga terdakwa kasus mega korupsi PT Asuransi Jiwasraya itu belum mampu mendongkrak angka pengembalian kerugian negara yang ditimbulkan oleh perusahaan pelat merah lagi.

“Tapi kita tetap bekerja keras. Kita upayakan karena Pak Jaksa Agung dan Jampidsus memang berkeinginan penyidik ini maksimal dalam pengembalian aset,” lanjut Febrie.

Febri sebelumnya sempat melontarkan, saat disita, tambang nikel milik Heru Hidaya belum beroperasi. Makanya, perhitungan nilai tambang itu harus melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Salah satunya, BUMN PT Bukit Asam Tbk.

Selain tambang nikel milik Heru Hidayat, penyidik juga telah menghitung nilai tambang batu bara milik tersangka Benny Tjokro. Namun, Febrie tak menyebut rinci jumlahnya.

Sementara itu, Jaksa Agung Muda bidang Pidana Khusus pada Kejaksaan Agung, Ali Mukartono mengatakan, penyidik tengah menghitung nilai aset yang disita dari para tersangka kasus Asabri. Namun, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari tim penyidik, nilai aset yang telah disita pihaknya masih jauh dari total kerugian negara dalam kasus ini.

Bahkan, Ali menyebut, nilai aset itu belum sampai 50% dari total kerugian negara kasus PT Asabri. Makanya, pihaknya masih bekerja keras untuk menelusuri aset-aset para tersangka.

“Masih jauh (dari kerugian negara.red). Masih telusuri lagi (aset-aset.),” tandas Ali (Fanal Sagala)

Pos terkait