Pengamat: Banjir Jakarta Akibat Buruknya Drainase Kota

  • Whatsapp
Pengamat: Banjir Jakarta Akibat Buruknya Drainase Kota
Nirwono Joga. [dok MI]

Jakarta, Monitorindonesia.com – Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisaksi Jakarta Nirwono Joga, menilai banjir yang melanda Jakarta akhir pekan ini masuk kategori banjir kiriman dmn air hujan dari kawasan puncak seperti Bogor dan Depok. Akibatnya sungai meluap menggenangi permukiman di bantaran dan sekitar sungaiyang ada di ibukota.

Banjir Jakarta dinilai Nirwono  menunjukkan gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak melakukan pekerjaan rumahnya dalam membenahi sungai yang kapasitasnya sudah tidak memadai.

Bacaan Lainnya

“Gubernur Anies harusnya membenahi sungai dengan dengan melebarkan badan sungai, merelokasi warga ke rusunawa dan menata bantaran dengan memadukan pedekatan normalisasi dan naturalisasi, mengeruk dan memperdalam sungai untuk meningkatkan kapasitas daya tampung sungai,” ujar Nirwono Joga saat berbincang dengan monitorindonesia.com, Minggu (21/2/2021).

Nirwono Joga menilai sistem drainase Jakarta sangat buruk sehingga beberapa ruas jalan dan underpass atau terowongan tergenang banjir. Seharusnya, kata Nirwono, Anies merehabilitasi saluran air kota sebelum musim hujan.

Menurutnya, Pemda DKI harus merehabilitasi saluran air secara menyeluruh dan terpadu, mulai dari saluran mikro atau lingkungan, saluran meso/kawasan, sal makro/kota, dimensi saluran air diperbesar secara berjenjang. Misalnya semula 1,5 meter diperbesar jadi 3-5 meter.

“Harus ditata jalur utilitas bawah tanahnya dalam sehingga tidak tumpang tindih dan tentunya dirawat agar bebas sampah dan lumpur,” katanya.

Nirwono membandingkan, di negara-negara eropa, AS, dan Australia sistem drainasenya dirancang untuk antisipasi curah hujan tertinggi dalam 100 tahunan. Bahkan dimensi saluran drainase bawah tanahnya bisa mencapai 5-10 meter dan itu dirancang sejak awal pembangunan kota yang bisa jadi dibangun 100 tahun lalu.

“Selain itu tata ruang kota harus diperbaiki. Permukiman yang terdampak banjir tahunan seperti yang berada di bantaran kali (banjir kiriman), tepian situ/danau/embung/waduk, serta di tepi pantai (banjir rob) harus direlokasi dan dikembalikan fungsinya sebagai RTH kota,” tandas Nirwono.[man]

Pos terkait