Dimata Sahabat, Artidjo Abadikan Seluruh Hidupnya yang Bersahaja untuk Masyarakat

  • Whatsapp
Dimata Sahabat, Artidjo Abadikan Seluruh Hidupnya yang Bersahaja untuk Masyarakat
Abdul Fickar Hadjar.[Foto : Usakti ac.id]

Monitorindonesia.com – Mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar meninggal dunia pada hari Minggu, 28 Februari 2021, sekitar pukul 14.00 WIB. Artidjo meninggal dunia karena sakit jantung dan paru-paru.

Kepergian anggota dewan pengawas KPK itu membawa duka yang mendalam bagi sebagaian besar rakyat Indonesia. Sosok Artidjo dalam melawan ketidakadilan di bidang hukum tak perlu diragukan lagi.

Bacaan Lainnya

Hal itu diungkap salah satu sahabat Artidjo yakni Abdul Fickar Hadjar. Fickar yang merupakan dosen di Universitas Trisakti Jakarta itu mengaku sangat kehilangan sosok hakim bersahaja tersebut.

Bagi Fickar, Artidjo Alkostar adalah seorang yang teguh dalam pendirian. Fickar mengenal Artidjo sejak tahun 1986 ketika masih bekerja sebagai Direktur LBH Yogyakarta dalam sebuah Rakernas di Rantau Parapat, Sumateta Utara.

“Ketika itu saya baru saja beberapa bulan menjadi Pembela Umum (pengacara publik) yang oleh Direktur LBH Jakarta waktu alm Abdul Hakim Garuda Nusantara diajak serta dalam sebuah Rapat Kerja LBH se-Indonesia,” ujar Fickar dalam perbincangan dengan Monitorindonesia.com Senin (1/3/2021) pagi.

Pada waktu itu YLBHI membawahi 14 kantor cabang LBH termasuk didalamnya LBH Jakarta dan LBH Yogya (Medan, Padang, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya, Makasar, Banjarmasin, Pontianak, Lampung, Manado, Jayapura).

“Perkenalan pertama yang saya tahu mas Artijo dan Mas Zaedun (LBH Surabaya) termasuk orang alim karena termasuk orang-orang senang tinggal di hotel ketika malam hari. Kami bertiga ngobrol ngalor-ngidul tentu saja berkaitan dengan perkembangan bantuan hukum sejalan dengan peranan advokat,” ucap Fickar.

Artidjo dikenal Fickar sangat teguh pada pendirian walaupun terkesan kaku, tetapi tetap terbuka untuk menerima kritik. Bagi Fickar, Artidjo merupakan Pejuang dan Penegak Hukum paling bersahaja.

“Bahkan tidak ada perubahan gaya hidup dari sejak saya kenal Almarhum awal tahun 86- an mulai bergabung di LBH tahun 1983 menjadi direktur LBH Jogyakarta,” katanya.

Dengan basic pekerjaan seorang dosen, Artidjo hidup bersahaja. Yang berubah cuma ketika jadi Hakim Agung dia suka pakai Stelan Jas itupun karena tuntutan status. Selebihnya baik rumah yang dimiliki maupun kendaraan masih seperti dulu.

Rupanya, kata Fickar, mobil Artidjo pun yang dia pakai mobil dinas tentunya, dan tinggal di Jakarta cukup dengan menyewa apartemen. “Bisa dilihat dari LKHPN 2019, sebuah rumah dan motor bebek Astrea tahun 1986 yang dia pakai waktu menjabat direktur LBH Jogya masih tercatat di LKHPN 2019. Mas Artidjo sepertinya asyik dengan pekerjaannya, tetapi itulah sikapnya konsisten dengan pekerjaan,” kenangnya.

Lepas dari jabatannya sebagai direktur LBH Yogya kembali aktif sebagai pengacara dan dosen di almamaternya di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogjakarta. Setahun kemudian menjadi Hak Agung sampai pensiun 2019, kemudian menjadi Dewan Pengawas KPK sampai akhir hidupnya.

“Dengan pribadi yang kuat hampir seluruh hidupnya yang bersahaja diabadikan untuk masyarakat. Selamat jalan Mas Artidjo,” tutup Fickar.

Sebagaimana diketahui, Artidjo mendirikan kantor hukum Artidjo Alkostar and Associates hingga kantor itu harus ditutup pada tahun 2000 karena dirinya diminta menjadi Hakim Agung di Mahkamah Agung RI.

Selama 18 tahun menjadi Hakim Agung, Artidjo juga dipilih menjadi Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung sejak 2014. Artijo purnatugas dari Mahkamah Agung pada 22 Mei 2018 dan sudah menangani 19.483 perkara sepanjang karirnya. Pada Desember 2019, Artidjo menjadi anggota Dewan Pengawas KPK.[man]

Pos terkait