Penembakan di Amerika Serikat Meralela

  • Whatsapp
Penembakan di Amerika Serikat Meralela
Ilustrasi penembakan

Monitorindonesia.com – Seorang pria dengan senjata api telah membunuh 10 orang salah satu diantaranya seorang anggota kepolisian di sebuah super market, negara bagian Colorado, Amerika Serikat pada hari Senin (22/03/2021) waktu setempat.

Kepala Polisi Boulder Maris Harold menyatakan, pelaku diidentifikasi bernama Ahmad Alissa. Ahmad kini berusia 21 tahun. Tersangka dijerat dengan 10 dakwaan pembunuhan tingkat pertama, dalam insiden Senin waktu setempat (22/3/2021).

Ahmad tinggal di Arvada, sekitar 32 km di selatan Boulder. Harold juga menerangkan, 10 korban tewas penembakan massal juga diidentifikasi dengan umur antara 20 sampai 65 tahun.

Serangan senjata tersebut Ahmad berakhir setelah polisi berhasil menahan tersangka yang sudah terluka di tempat perkara, Swalayan King Soopers. Penembakan tersebut disiarkan secara langsung oleh para saksi dan penyiar di YouTube.

Salah satu korban tewas tertembak adalah Eric Talley (51 tahun), anggota kepolisian yang pertama sekali merespon terhadap penembakan tersebut. “Ini adalah musibah dan mimpi buruk untuk wilayah Boulder” jelas Michael Dougherty, jaksa daerah tersebut.

“Mereka ini sedang melakukan aktivitas harian, berbelanja. Saya berjanji para korban dan semua warga negara bagian Colorado akan mendapatkan keadilan.”

Belum ada penjelasan lebih lanjut tentang sembilan korban lainnya ataupun motif pelaku atas penyerangannya. Swalayan tersebut terletak di pusat pembelajaan di Boulder, pusat kota bagian utara Colorado berjarak sekitar 30 Mil (50 KM) dari ibu kota negara Colorado, Denver.

Serangan di Swalayan tersebut terjadi kurang dari seminggu setelah penembakan masal yang menewaskan delapan orang diantaranya termasuk enam orang wanita Asia di tiga tempat Spa yang berbeda di Atlanta.

Apa yang Kita Ketahui tentang Penembakan tersebut?

Kejadian tersebut mulai sekitar pukul 14:30 waktu setempat pada hari Senin (22/03/2021) ketika tersangka memasuki supermarket dan mulai menembak. Para pengunjung dan karyawan toko tersebut berkata bahwa mereka harus bersembunyi atau berlari mencari tempat aman karena penembakan berlangsung.

Beberapa korban tertangkap kamera para pejalan kaki dekat swalayan tersebut yang menampilkan para korban. “Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, saya mendengarkan bunyi tembakan, seseorang terjatuh,” juru kamera tersebut berteriak “ada seorang penembak, pergilah menjauh”.

Bunyi tembakan tersebut masih terdengar setelah dia berlari menjauh dari toko tersebut. Video tersebut berlanjut, polisi tiba di lokasi kejadian dan mengelilingi supermarket tersebut.

Polisi daerah Boulder kemudian memperingatkan warga untuk menghindari kawasan tempat perkara dan menyarankan untuk tidak menyiarkan informasi yang bersifat taktik yang mungkin mereka akan lihat.

“Kami sedang melakukan pembayaran di kasir dan penembakan dimulai” kata Sarah Moonshadow, seorang pelanggan yang terjebak dalam penembakan tersebut bersama putranya, Nicholas.

Dia mengungkapkan kepada Reuter bahwa dia mencoba membantu salah satu korban yang tergeletak di trotoar luar toko tetapi anaknya menariknya menjauh dan berkata “kita harus
pergi”

“Saya tidak dapat membantu siapapun” Ryan Borowski, juga berada di dalam toko tersebut bersaksi melalui CNN bahwa dia masih belum percaya apa yang terjadi di kotanya “disini rasanya kota paling aman di Amerika dan saya hampir saja tewas hanya untuk membeli soda dan snack.”

Para saksi mata mengatakan bahwa tersangka menggunakan sebuah senjata api. Berdasarkan sumber informasi dari pihak kepolisian kepada CNN bahwa senjata tersebut merupakan tipe AR-15, senjata semi otomatis yang memang biasa digunakan untuk penembakan massal di AS.

Sebuah rekaman melalui udara menampilkan seorang pria tanpa atasan dengan tangan diborgol dan terlihat terluka dibagian kaki seperti luka yang dibalut.

Melalui konperensi pers, kepala kepolisian Boulder, Maris Herold menegaskan bahwa pelaku sudah ditetapkan sebagai tahanan kepolisian dan sedang dalam perawatan di rumah sakit. “Saya menjamin keamanan para warga,” katanya.

Herold juga menginformasikan bahwa anggota kepolisian yang turut jadi korban penembakan atas nama Eric Talley, merupakan seorang ayah dari tujuh orang anak telah berganung dengan kepolisian Boulder sejak 2010.

“Tindakan heroik petugas kepolisian ini ketika merespon terhadap situasi kejadian penembakan.. telepon untuk petugas patroli yang diperlengkapi senjata telah menunda tembakan lanjutan di area tersebut” katanya.

Herold tidak menjelaskan lebih detail tentang penembakan tersebut tetapi dia mengungkapkan bahwa investigasi masih sangat kompleks dan akan menghabiskan tidak kurang dari lima hari untuk melengkapi penyelidikannya.

Nama para korban lainnya tidak akan diumumkan sampai keluarga korban diinformasikan.

Bagaimana Reaksi terhadap Penembakan tersebut?

“Hari ini kita telah menyaksikan wajah iblis. Saya turut berduka terhadap semua warga saya dan semua masyarakat Colorado,” ujar Gubernur Colorado, Jared Polis menulis tweet di social media twitter.

Penembakan di swalayan merupakan kasus ketujuh pembunuhan massal sepanjang tahun ini setelah kasus penembakan massal reda sepanjang pandemi tahun lalu, menurut database yang dikumpulkan oleh Asosiasi Pers (AP), USA Today dan Northeastern University.

Database tersebut berdasarkan jumlah korban empat atau lebih yang tewas. Ini telah mengarah kepada pembaharuan aturan tentang persenjataan di AS untuk lebih ketat, ide ini jelas sudah diusulkan tapi sepertinya masih dianggap sepele sementara terdapat ratusan penembakan massal sepanjang tahun.

Mantan Senat Wanita Arizona Gabrielle Gifford, advokat pengawasan senjata api merupakan korban dengan luka parah pada saat penembakan masssal pada tahun 2011 berkata “Ini sudah 10 tahun dan jumlah korban sudah tidak terhitung.. ini sudah tidak wajar.”

Pimpinan Majelis Demokrasi Amerika, Chuck Schumer merespon berita yang beredar melalui akun twitter nya “Dewan harus dan akan maju melalui perundangan untuk membantu para korban kekerasan senjata api yang merajalela.

Presiden Joe Biden yang telah mengetahui serangan minggu lalu berkata bahwa dia akan mengusulkan aturan yang lebih ketat untuk menjamin pemeriksaan latarbelakang pihak yang akan membeli senjata api. Hak untuk memiliki senjata akan diatur oleh amandemen kedua terhadap konstitusi AS dan dipertahankan dengan kuat oleh pihak konservatif termasuk mantan presiden AS, Donald Trump.

Negara bagian Colorado telah mengalami sejumlah penembakan massal dalam beberapa dekade terkahir termasuk serangan yang terjadi di Columbine High School pada tahun 1999 yang menewaskan 12 korban termasuk diantaranya guru dan siswa.Juga serangan yang terjadi bioskop Aurora pada tahun 2012 yang menewaskan 12 korban.[Yohana RJ]

Sumber : BBC News

Pos terkait