Kebakaran Pengungsian Rohingya di Bangladesh, 15 Pengungsi Tewas dan 400 Lainnya Hilang

  • Whatsapp
Kebakaran Pengungsian Rohingya di Bangladesh, 15 Pengungsi Tewas dan 400 Lainnya Hilang
Kebakaran besar di kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh pada 22 Maret 2021. (Stringer - Anadolu Agency )

Monitorindonesia.com – Setidaknya terdapat 15 orang korban tewas akibat kebakaran hebat yang melanda tempat pengungsian kaum Rohingya di Bangladesh. Demikian lembaga pengungsian PBB UNHCR menjelaskan pada Selasa (23/3/2021). UNHCR juga menambahkan bahwa ada sekitar 400 pengungsi yang masih belum ditemukan dan polisi telah memastikan kematian tujuh orang korban.

Si jago merah melalap tempat pengungsian Balukhali di kota Cox’s Bazar Senin dini hari (22/03/2021) menghanguskan lebih dari 17,000 tempat tinggal mereka, para pengungsi segera berlari dan sedikit menyelamatkan barang milik mereka.

Lebih dari ribuan petugas palang merah dan sukarelawan membantu memadamkan kebakaran bersama dengan layanan pemadam kebakaran. Jumlah pengungsi di penampungan tersebut adalah 124,000 jiwa atau sepersepuluh dari satu juta jiwa pengungsi Rohingya.

Mayoritas dari mereka adalah berasal dari Myanmar korban kekerasan militer 2017.

“Mereka ini sudah dipindahkan dua kali dan banyak yang menghilang” jelas perwakilan palang merah Bangladesh, Sanjeev Kafley.

“Kebakarannya sangat besar dan meluluhlantakkan semuanya. kita belum menemukan 400 pengunsi lainnya yang mungkin saja terjebak dalam kebakran tersebut,” ungkap Johannes Van Der Klaauw dari UNHCR

Seorang pengungsi Rohingya Aman Ullah berkata “semua sudah hancur, ribuan orang kehilangan tempat tinggal”

“Api baru bisa dipadamkan setelah enam jam namun kepulan asap masih berlanjut sepanjang malam”
Seorang Anggota kepolisian senior, Zakir Hossain Khan mengatakan sambil mengataan, penyebab kebakaran belum diketahui

Menurut saksi mata, beberapa orang terjebak karena pagar kawat. John Quinly dari Fortify Rights, sebuah organisasi yang bekerja sama dengan kaum Rohingya mengungkapjan bahwa dia sudah pernah mendengar laporan yang serupa karena pagar kawat terebut telah menghambat distribusi bantuan dan pelayanan terhadap para pengungsi sebelumnya.

“Pemerintah harus mencabut pagar kawat tersebut dan melindungi para pengungsi” tegas Quinly.

“Sudah terjadi kebakaran beberapa kali sebelumnya termasuk salah satunya Januari lalu terbilang kebakaran besar tahun ini. Pihak yang berwenang harusnya melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap penyebab kebakaran” jelasnya.[Yohana RJ]

Sumber : Sky News

Pos terkait