Metanol Pada Bir Oplosan Dapat Sebabkan Penurunan Penglihatan

Nuramin Rizky
Nuramin Rizky
Diperbarui 3 April 2024 15:11 WIB
Pengecekan peredaran minuman keras oplosan di kios jamu. (Foto: ANTARA)
Pengecekan peredaran minuman keras oplosan di kios jamu. (Foto: ANTARA)

Jakarta, MI - Dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Dr dr Syntia Nusanti mengatakan, metanol yang terkandung pada bir oplosan dapat menyebabkan penurunan penglihatan, karena langsung menyerang saraf optik.

"Kita sering baca ya, orang yang meninggal karena minum oplosan. Itu seringkali ada juga yang menjadi kebutaan karena minum oplosan. Nah dia bukan karena peningkatan tekanan intrakranial, tapi karena efek dari metanol yang diminum langsung kepada saraf optik," kata Syntia dalam siaran radio berjudul "Papiledema" di Jakarta, Rabu (3/4/2024).

Hal itu dia sebut sebagai respon dari pertanyaan mengenai keterkaitan antara konsumsi bir oplosan serta trauma di sekitar kepala dengan risiko papiledema. Dia menjelaskan, pasien yang mengalami intoksikasi metanol memiliki keluhan yang berbeda dengan pasien papiledema.

Pada jenis pasien pertama, katanya, keluhannya berupa penghilatan yang sangat buram, sampai tidak bisa melihat apapun. Sedangkan kalau papiledema kan dia datang dengan keadaan sakit kepala hebat, mual muntah, mungkin ada gangguan penglihatan, mungkin tidak," katanya.

Adapun untuk trauma, ujarnya, hal tersebut tergantung posisi traumanya. Menurutnya, trauma kepala seringkali bisa menyebabkan tidak hanya peningkatan tekanan intrakranial, tapi kerusakan dari struktur otak lainnya.

Pada kesempatan itu, dia menyebutkan penyebab papiledema, sebuah penyakit di mana kepala saraf optik di kedua mata mengalami pembengkakan. Hal-hal tersebut seperti tumor di otak yang menyebabkan peningkatan tekanan di bagian intrakranial, atau hambatan dalam pengeluaran cairan di otak.

Dia menjelaskan bahwa papiledema bukan penyakit yang berhubungan dengan usia, dan banyak sekali penyebabnya. Selain tumor di otak dan hambatan pengeluaran cairan, terdapat sebab-sebab lain, contohnya infeksi di otak, seperti meningitis. "Namun ada juga yang kita sebut sebagai idiopatik. Nah idiopatik ini terjadi peningkatan tekanan di intrakranial tanpa sebab khusus gitu," ucapnya.

Menurutnya, untuk papiledema yang sifatnya idiopatik, banyak ditemukan pada perempuan-perempuan obesitas berusia kisaran 30-40 tahun. Dia juga mengatakan, papiledema dijumpai pada pasien-pasien dengan hipertensi, terutama hipertensi emergensi yang menyebabkan tekanan darah naik hingga saraf mata bengkak.

Adapun gejala-gejalanya, kata dokter itu, biasanya berupa sakit kepala hebat yang membuat rasa mual bahkan muntah. Kemudian secara penglihatan, keburaman tidak serta-merta terjadi, namun perlahan-lahan dan sementara, misalnya ketika bangun dari posisi jongkok kemudian batuk, atau ketika mengedan saat buang air besar.

"Biasanya pertama mungkin kehilangan kemampuan melihat warna atau kemudian kontras, jadi terang gelap itu akan jadi sulit dan lama-lama akan terjadi penurunan terhadap penglihatan. Kadang-kadang ini disertai juga dengan penglihatan ganda," katanya menambahkan. (AM)