Abraham Samad Curiga Penerbitan SP3 Sjamsul Nursalim

  • Whatsapp
Abraham Samad Curiga Penerbitan SP3 Sjamsul Nursalim
Mantan ketua KPk Abraham Samad.[Ist]

Monitorindonesia.com – Mantan Ketua KPK Abraham Samad mencurigai ada sesuatu di balik terbitnya surat perintah penghentian penyidikan (SP3) tersangka korupsi Sjamsul Nursalim dan istrinya Itjih Nursalim.

Menurut Samad, sekalipun SP3 hendak dikeluarkan oleh KPK sesuai kewenangan pada UU 19/2019, seharusnya harus terlebih dahulu membuat kajian. Menurutnya, SP3 kasus BLBI tak didasari kajian hukum mendalam.

Bacaan Lainnya

“Itu tidak terlalu tepat (alasan vonis lepas dari Mahkamah Agung terhadap Eks Ketua BPPN, Syafruddin Arsyad Tumenggung) jadi alasan SP3 BLBI. Harus ada analisis mendalam, analisis hukum kalau cuma itu, tidak terlalu tepat,” ujar Samad, Minggu (5/3/2021).

Dia curiga KPK diburu waktu untuk menerbitkan SP3 kasus BLBI. Hal itu, kata Abaraham Samad, menimbulkan kecurigaan publik terhadap KPK.

“Ini kesannya terburu-buru, seperti diburu waktu. Padahal seharusnya kita butuh waktu kaji lebih dalam. Kajiannya harus kajian hukum. Kayak teburu-buru sehingga timbulkan tanda tanya ada apa?” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, KPK mengeluarkan SP3 kasus Sjamsul Nursalim pekan lalu. KPK beralasan pemberian SP3 sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku.

Sjamsul dan Itjih ditetapkan KPK sebagai tersangka pada Senin (10/6/2019). Saat itu, KPK menduga total kerugian negara akibat perbuatan Sjamsul Nursalim dan istri diduga mencapai Rp 4,58 triliun.

BLBI sendiri merupakan skema pinjaman yang diberikan Bank Indonesia kepada bank-bank yang mengalami masalah likuiditas saat krisis moneter 1998. Skema ini dilakukan berdasarkan perjanjian Indonesia dengan IMF dalam mengatasi masalah krisis.

Pada Desember 1998, BI menyalurkan BLBI sebesar Rp 147,7 triliun kepada 48 bank. Salah satu bank yang mendapat suntikan dana adalah Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) di mana Sjamsul adalah pemegang saham pengendali BDNI.[man]

 

Pos terkait