AHY di Puncak Gunung Tidak Pernah Mendaki, Saat Turun Gunung Tak Tahu Caranya?

  • Whatsapp
AHY di Puncak Gunung Tidak Pernah Mendaki, Saat Turun Gunung Tak Tahu Caranya?
SBY dan anaknya AHY .[ist]

Monitorindonesia.com – Siapakah orang yang pernah menetap di Partai Demokrat? Fakta sejarah pada saat Anas Urbaningrum terpilih sebagai ketua umum partai Demokrat secara demokratis Pada kongres ke-2 di Bandung tahun 2010 Anas Urbaningrum yang dalam perjalananya terjerat masalah hukum.

SBY selaku ketua dewan Pembina Partai Demokrat dan juga Presiden Republik Indonesia saat itu mengambil kekuasaan ketua umum Anas Urbaningrum dengan cara membentuk presidium di mana ketuanya adalah SBY dan wakil ketua Anas Urbaningrum yang tidak memiliki fungsi lagi dalam menjalankan roda Partai Demokrat.

Bacaan Lainnya

Hal itu dikatakan senior Partai Demokrat Jhony Allen marbun dalam video yang diterima Monitorindonesia.com Senin (1/3/2021).

Selanjutnya, Anas Urbaningrum menjadi tersangka, terjadilah KLB pertama atau kongres ketiga Partai Demokrat di Bali tahun 2013. Untuk melanjutkan kepemimpinan Anas Urbaningrum hingga 2015 di mana SBY mengatakan hanya akan meneruskan sisa kepemimpinan Anas Urbaningrum waktu itu.

Sehingga Jhony Allen diperintahkan oleh SBY untuk membujuk Marzuki Alie yang saat itu menjabat ketua DPR untuk tidak maju sebagai kandidat Ketua Umum Partai Demokrat.
Padahal Pada kongres kedua 2010 memperoleh suara kedua terbesar setelah pada kongres keempat 2012 di Surabaya SBY merekayasa jalannya kongres agar dia menjadi calon tunggal sebagai ketua umum partai Demokrat.

“Inilah bentuk pengingkaran janji SBY terhadap dirinya sendiri dan para kader partai Demokrat di seluruh tanah air. Yang paling melelahkan para ketua DPD dan ketua DPC seluruh Indonesia adalah membuat peraturan organisasi yang mengamputasi DPD dan DPC dengan mengambil iuran anggota Fraksi DPRD Provinsi dan DPRD kabupaten kota untuk sebagian disetor kepada dewan pimpinan pusat dan hak-hak penentuan pemilihan kepala daerah tanpa ada pertanggungjawabannya selanjutnya,” jelas Jhony Allen.

Pada kongres kelima pada 15 Maret 2020 di Senayan Jakarta, kembali SBY merekayasa tata cara kongres tidak sesuai sebagaimana mestinya pembahasan dan penetapan tata tertib acara tidak dilakukan dimana salah satu isinya membahas syarat dan tata cara pemilihan ketua umum itu tidak ada laporan pertanggungjawaban dari ketua umum SBY. Setelah pidato SBY peserta Kongres yang tidak punya hak suara diusir keluar arena kongres.

Semestinya, kata Jhony, seluruh peserta Kongres memiliki hak bicara padahal hak suara hanya digunakan pada saat pemilihan ketua umum atau perbedaan pendapat selanjutnya. SBY mendesain ketua-ketua DPD seluruh Indonesia untuk memilik anaknya AHY menjadi ketua umum dan itulah yang mereka sebut aklamasi.

Karena itu, Jhoni menilai, AHY menjadi ketua umum tidak pernah berupaya mendaki ke puncak. AHY juga tidak tahu caranya turun gunung sehingga harus SBY yang menghadapi isu kudeta belakangan ini.

“Makanya AHY berada di puncak gunung tapi tidak pernah mendaki. Oleh sebab itu AHY ketua umum nggak tahu cara turun gunung,” katanya.

Kini, kata Jony Allen, SBY harus turun gunung. “Inilah yang disebut kepemimpinan Demokrat. Oleh sebab itu, KLB solusi konstitusional untuk mengembalikan Partai Demokrat sebagai partai yang demokratis terbuka dan modern,” tandasnya.[man]

Pos terkait