Tiru Jejak Ayahnya, AHY Dinilai Sedang Mempraktikkan Teori “Politic Victimization”

  • Whatsapp
Tiru Jejak Ayahnya, AHY Dinilai Sedang Mempraktikkan Teori "Politic Victimization"
AHY.[dok]

Jakarta, Monitorindonesia.com – Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dinilai tengah mempraktikkan teori politik victimization atau memosisikan diri sebagai korban dalam isu kudeta Partai Demokrat. Teori politik victimization sangat populer di Amerika Serikat pada periode 1970.

“Teorijuga telah dipraktekkan oleh bapaknya oleh SBY menjelang kontestasi Pilpres tahun 2004 dan berhasil dengan gemilang,” ujar direktur Lembaga Survei Nasional (LSN), Umar S. Bakry di Jakarta, Kamis (18/2/2021).

Bacaan Lainnya

Umar Bakry mengingatkan bahwa strategi ini mudah dibaca oleh masyarakat yang saat ini relatif lebih kritis. Umar mengingatkan bahwa ada dua mata pisau dari penggunaan strategi ini, di satu sisi bisa menunjukkan sebagai pihak yang dizalimi tapi di lain sisi menunjukkan kekurangan kompetensi dalam kepemimpinan.

Menurutnya, masyarakat dapat menilai Partai Demokrat membutuhkan penyelamat partai yang memiliki kepempinan yang lebih kuat. Pemimpin yang kuat akan memberikan keyakinan bagi seluruh organ partainya.

“Dengan AHY membongkar isu kudeta ini, memancing serangan balik dari tokoh tokoh internal Demokrat untuk membuka kelemahan-kelemahan kepemimpinan AHY, hal yang tadinya tidak diketahui oleh publik,” katanya.

Para pakar victimization mengamati korban atau victimhood sering menjadi salah satu posisi politik yang menguntungkan. Menurutnya, banyak aktor politik menempatkan diri sebagai victimhood atau sebagai korban.

“Dalam kasus isu kudeta di Partai Demokrat, saya melihat AHY sengaja memposisikan dirinya dan partainya dalam hal ini Partai Demokrat sebagai korban sebagai victimhood,” ucap Umar.

Dengan menyebut diksi lingkar kekuasaan terdekat dengan Presiden Jokowi, AHY sebenarnya tengah mengonstruksi sebuah narasi bahwa dirinya dan Partai Demokrat tengah dizalimi oleh pusat kekuasaan negara. AHY ingin menegaskan klaim bahwa dirinya tengah berupaya menegakkan sesuatu yang lebih penting yaitu demokrasi.

namun, kata dia, serangan balik dari kalangan dalam Partai Demokrat sendiri menegaskan bahwa gaduh ini disebabkan konflik internal sendiri dan lagi lagi dilihat sebagai masalah kepemimpinan AHY.

Umar juga mengungkapkan bahwa politik praktis adalah soal bagaimana mendapatkan simpati dan dukungan elektoral dari publik luas. Namun dengan gaduhnya tanggapan dari pihak pihak internal Demokrat yang begitu gamblang membuka banyak kekurangan dan kelemahan kepemimpinan AHY.

“Saya menilai target viktimisasi tidak mencapai sasaran bahkan sekarang berkembang luas pandangan perlunya Partai Demokrat memiliki kepempinan baru yang lebih kuat dan lebih mengayomi,” tandasnya.[man]

 

Pos terkait