Akibat Dugaan Korupsi di Jiwasraya dan Asabri, PT SMR Utama Tbk Alami Kesulitan Berganda

  • Whatsapp
Akibat Dugaan Korupsi di Jiwasraya dan Asabri, PT SMR Utama Tbk Alami Kesulitan Berganda
PT SMR Utama Tbk.

Monitorindonesia.com – Pengamat Ekonomi dan Bisnis Universitas Pelita Harapan (UPH), Tanggor Sihombing, menilai kesulitan yang dialami oleh PT SMR Utama Tbk memang berganda, akibat dugaan korupsi pada perusahaan Asuransi Jiwasraya dan Asabri yang diusut Kejaksaan Agung (Kejagung).

“Adanya tindakan hukum ke Jiwasraya ternyata berdampak terhadap kinerja perusahaan, para pekerja dan masyarakat,” kata Tanggor kepada wartawan di Jakarta, Rabu (26/5/2021).

Bacaan Lainnya

Dia pun mengkhawatirkan bakal terjadi kelumpuhan operasional dan keuangan perusahaan secara total. Apalagi pada awal tahun 2020 ada suspensi BEI akibat penyidikan kasus Jiwasraya, kemudian perputaran bisnis yang juga terdampak pada situasi pandemi yang sangat signifikan.

“Sudah terlihat dari penurunan kontrak dan supply pada kuartal 2 dan 3 di tahun 2020 terjadi juga. Pasti bermuara kepada kinerja keuangan, likuiditas internal dan pinjaman eksternal juga tak mudah. Penegakan hukum ini jelas menghambat operasional pada semester pertama 2021,” tutup Taggor.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan SMR Utama, Arief Novaldi menyebut PT SMR Utama Tbk mengaku kesulitan mencari pinjaman untuk pembiayaan alat berat dan suku cadang. Pasalnya, kasus korupsi Jiwasraya yang menyeret Heru Hidayat, dimana yang bersangkutan diketahui hanya memiliki 13 persen saham pada PT Trada Alam Minera Tbk. Hal ini membuat supplier dan lembaga pembiayaan mulai membatasi kemitraan dengan PT SMR Utama Tbk.

“Dampak atas kasus hukum bagi perseroan dan entitas anak terutama dalam melakukan pembiayaan alat berat melalui lembaga pembiayaan. Sehingga rencana entitas anak dalam peremajaan alat tidak berjalan sesuai rencana yang mengakibatkan pekerjaan tambang menurun,” ujar Sekertaris Perusahaan SMR Utama, Arief Novaldi melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.

Menurutnya, mitra penyedia barang dan jasa meminta pembayaran di muka. Kemudian, sejumlah penyedia leasing alat berat juga menurunkan plafond pinjamannya.

Kondisi demikian membuat perseroan mengalami tekanan keuangan sejak tahun lalu. Ditambah lagi, pandemi Covid-19 yang menyebabkan permintaan batu bara di pasar domestik maupun ekspor menurun, sehingga pemain tambang batu bara ikut mengurangi target produksi lebih dari 50 persen.

Seperti diketahui, penyidik Kejagung telah menyeret sejumlah pihak dalam kasus korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi Jiwasraya yang hingga kini proses persidangannya masih berjalan.

Tidak itu saja, dalam proses penyidikan kasus PT Asabri, Kejagung juga sangat gencar melakukan penyitaan berbagai aset yang dimiliki Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk, sekaligus Direktur PT Maxima Integra, Heru Hidayat yang telah divonis seumur hidup atas kasus Jiwasraya. (Ery)

Pos terkait