Mengenal Gejala Autisme Pada Anak Sejak Dini

  • Whatsapp
autisme-pada-anak
[Foto-theconversation.com]

Monitorindonesia.com – Proses tumbuh kembang anak merupakan hal terpenting yang harus diketahui oleh orang tua. Oleh karena itu, ada baiknya bila orang tua mengenali ciri-ciri anak autis yang pada umumnya terjadi. Sehingga apabila anak memiliki gejala autis, orang tua tetap bisa memaksimalkan pertumbuhannya.

Autisme sejatinya bisa didiagnosis pada anak sebelum usia 2 tahun. Namun, sebagian besar anak dengan gangguan spektrum autisme (Autisme) didiagnosis setelah usia 4 tahun. Padahal, semakin dini anak terdiagnosis ASD, semakin dini anak akan mendapatkan penanganan yang tepat sehingga memiliki peluang kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Berikut ciri-ciri autisme yang bisa dideteksi pada anak :

  • Gangguan Kemampuan Sosial
  • Kesulitan Berempati
  • Tidak Suka Kontak Fisik
  • Tidak Suka Suara Keras, Beberapa Aroma, dan Cahaya Terang
  • Gangguan Bicara
  • Suka Tindakan Berulang
  • Perkembangan Tidak Seimbang

1. Gangguan Kemampuan Sosial
Autisme berkaitan dengan gangguan kemampuan sosial yang penderitanya berinteraksi berbeda dengan orang pada umumnya. Pada tingkat gejala ringan, ciri-ciri autisme yang muncul adalah tampak canggung saat berhubungan dengan orang lain, mengeluarkan komentar yang menyinggung orang lain, dan tampak terasing saat berkumpul bersama orang lain. Penderita autis dengan tingkat gejala autis yang parah biasanya tidak suka berinteraksi dengan orang lain. Mereka juga cenderung menghindari kontak mata1. Pada anak-anak, gejala autis berupa gangguan kemampuan sosial ini dapat terlihat dari ketidaktertarikannya pada permainan bersama serta sulit berbagi dan bermain secara bergantian.

2. Kesulitan Berempati
Sangat sulit bagi anak penderita autisme untuk memahami perasaan orang lain, sehingga mereka jarang berempati terhadap orang lain. Mereka juga sulit mengenali dan memahami bahasa tubuh atau intonasi bicara. Saat berbicara dengan orang lain, komunikasi cenderung bersifat satu arah karena mereka lebih banyak membicarakan dirinya sendiri. Untungnya, kemampuan berempati ini dapat dilatih dan meningkat jika mereka rutin diingatkan untuk belajar mempertimbangkan perasaan orang lain.

3. Tidak Suka Kontak Fisik

Tak seperti anak lain pada umumnya, sebagian anak penderita autisme tidak menyukai jika mereka disentuh atau dipeluk. Namun, tidak semua menunjukkan gejala yang sama. Sebagian anak dengan autisme sering dan senang memeluk mereka yang dekat dengannya.

4. Tidak Suka Suara Keras, Beberapa Aroma, dan Cahaya Terang

Anak penderita autisme umumnya merasa terganggu dengan suara keras yang mengagetkan, perubahan kondisi cahaya, dan perubahan suhu yang mendadak. Diyakini bahwa yang membuat mereka merasa terganggu adalah perubahan mendadak, sehingga mereka tidak bisa mempersiapkan diri terlebih dahulu. Bagi anak-anak dengan autisme, memberitahu mereka tentang sesuatu yang akan terjadi ternyata bermanfaat bagi mereka.

5. Gangguan Bicara

Ciri-ciri autisme bisa juga Anda deteksi dengan mengetahui kemampuan bicara pada anak. Diketahui bahwa 40% dari anak-anak dengan autisme tidak dapat berbicara atau hanya dapat mengucapkan beberapa kata saja. Sekitar 25-30% dapat mengucapkan beberapa kata pada usia 12-18 bulan, namun sesudahnya kehilangan kemampuan berbicara. Sedangkan sisanya baru dapat berbicara setelah agak besar. Intonasi penderita autisme saat berbicara biasanya cenderung datar dan bersifat formal. Mereka juga suka mengulang kata atau frase tertentu, atau dikenal sebagai echolalia1.

6. Suka Tindakan Berulang

Anak autis menyukai hal yang sudah pasti sehingga mereka menikmati melakukan rutinitas yang sama terus menerus atau sering melakukan tindakan yang berulang-ulang. Adanya perubahan pada rutinitas sehari-hari akan terasa sangat mengganggu bagi mereka1. Tindakan yang berulang ini dapat bervariasi dan dikenal sebagai stimulating activities (stimming), serta biasanya menjadi suatu obsesi tersendiri bagi penderita autisme.

7. Perkembangan Tidak Seimbang

Perkembangan anak pada umumnya bersifat seimbang, artinya perkembangannya meliputi banyak faktor dan bertahap. Sebaliknya, perkembangan pada anak-anak autis cenderung tidak seimbang: perkembangan di satu bidang terjadi dengan cepat namun terhambat di bidang lainnya. Sebagai contoh, perkembangan kemampuan kognitif terjadi dengan pesat namun kemampuan bicara masih terhambat atau perkembangan kemampuan bicara terjadi dengan pesat namun kemampuan motorik masih terhambat.

PARTISIPASI KELUARGA UNTUK ANAK AUTISTIK

Kehadiran anak autistik di dalam keluarga menyebabkan perubahan cukup besar dalam berbagai aspek kehidupan. Orangtua harus memberikan perhatian yang jauh lebih besar kepadanya secara spesial. Interaksi dan disiplin yang diterapkan harus disesuaikan dengan karakter anak autistik. Dalam kehidupan sehari-hari saudara sekandung semestinya menyesuaikan diri dengan adik/kakaknya yang autistik, seperti interaksi, komunikasi, kegiatan rekreasi, dan makanan yang dikonsumsi.

Tingkat orangtua dalam penerimaan dan pola penanganan anak dengan problematika autisme sangat dipengaruhi tingkat kestabilan dan kematangan emosinya. Pendidikan, status sosial ekonomi, jumlah anggota keluarga, struktur dalam keluarga, dan kultur juga sangat melatarbelakanginya. Penerimaan orangtua sangat beragam terhadap kondisi anak dengan gangguan autisme ini.

Semakin tinggi tingkat penolakan, semakin lama rentang waktu reorganisasi yang dapat dilakukan orangtua dalam intervensi yang dilakukan terhadap anak. Semakin sedikit kesenjangan dan keragaman permasalahan dalam keluarga akan dapat membantu intensitas intervensi yang lebih optimal. Dinamika yang terjadi dalam keluarga sangat berpengaruh ketika menangani anak autistik.

Dalam kondisi itu orangtua memiliki peranan penting untuk mengelola keadaan keluarga secara total. Sebab, persamaan persepsi dan kondisi saling memotivasi di antara pasangan akan sangat menentukan optimisme penanganan anak. Tentu hal ini merupakan kondisi ideal yang hendaknya bisa diciptakan dalam lingkungan keluarga.

Memperkecil kesenjangan

Hal utama yang juga menjadi upaya dalam penanganan dan pendampingan anak dengan masalah autisme dari keluarga adalah memberikan bantuan untuk memperkecil kemungkinan timbulnya kesenjangan yang ada dalam tuntutan perkembangnya. Oleh karena itu, Endang Retno dalam makalah berjudul Penanganan Orangtua terhadap Kondisi Anak Autisme (2003) menerangkan tahapan penting yang harus dipersiapkan orang tua.

  1. Pengenalan anak secara menyeluruh adalah tahap awal bagi orangtua untuk dapat melihat potret anak sesungguhnya. Dengan demikian, kita dapat memahami potensi positif dan kelemahan yang dimiliki anak, baik dari reaksi emosional, pola regulasi, rutinitas kegiatan, pola perilaku, maupun pola interaksi.
  2. Memiliki keterbukaan dalam mempersiapkan pola dukungan bagi anak. Hal ini terkait dengan pihak praktisi atau ahli, lingkungan sekolah, ataupun persiapan internal keluarga. Ketiga, mempersiapkan program bersama pihak terkait yang memiliki pemahaman dalam melaksanakan program secara terpadu.

Maka, hal terpenting yang harus diberikan orangtua kepada anak autistik bukan hanya pendidikan atau usaha mengatasi perilaku mereka, melainkan hubungan yang dilandasi dengan kasih sayang dan penerimaan tulus. Meskipun membutuhkan perlakuan khusus, anak autistik jangan sampai menjadi pusat dari segalanya. Upaya yang dilakukan tidak boleh menyebabkan orangtua mengabaikan kebutuhan anak-anak lain dan pasangannya. Jadi, perlu ada keseimbangan seluruh anggota keluarga.

Kunci keberhasilan penyembuhan gejala autisme adalah orangtua dan terapi tata laksana perilaku. Tidak cukup dan tidak akan berhasil jika kita hanya tergantung pada ahli terapi. Orangtua pun harus terjun. Maka, saat yang paling baik melakukan terapi adalah sedini mungkin sebelum usia lima tahun karena pada masa ini pertumbuhan dan perubahan berjalan sangat pesat, baik fisik maupun psikis (Hurlock, 2002: 76).

Terapi tata laksana

Menurut psikiater anak Rudy Sutadi (tergabung dalam Yayasan Autisme Indonesia yang berkedudukan di Jakarta maupun di RSUD dr Soetomo Surabaya) kelemahan autisme dapat dikurangi. Walaupun tidak bisa disembuhkan 100 persen, autis dapat dilatih melalui terapi sehingga ia bisa tumbuh normal. Alasannya karena hasil penatalaksanaan terapi setelah usia lima tahun akan berjalan lebih lambat.

Anak autistik perlu diberi bantuan terapi okupasi untuk membantu menguatkan serta memperbaiki koordinasi dan keterampilan ototnya. Beberapa program terapi penunjang bagi anak autistisk antara lain terapi wicara. Terapi ini membantu anak melancarkan otot-otot mulut sehingga mambantu anak berbicara lebih baik. Terapi okupasi untuk melatih motorik halus anak. Terapi bermain mengajarkan anak belajar sambil bermain. Terapi medikamentosa berupa pemberian obat-obatan oleh dokter berwenang. Terapi makanan (diet therapy) untuk anak-anak dengan masalah alergi makanan tertentu.

Anak autistik harus diet susu sapi karena susu itu mengandung protein kasein dan terigu yang mengandung protein gluten. Tubuh anak autistik tidak bisa mencerna kasein dan gluten secara sempurna. Uraian senyawa yang tidak sempurna masuk ke pembuluh darah dan sampai ke otak sebagai morfin. Ini terbukti dengan ditemukannya kandungan morfin yang bercirikan kasein dan gluten pada tes urine anak autistik. Keberadaan morfin jelas akan memengaruhi kerja otak dan pusat-pusat saraf sehingga anak berperilaku aneh dan sulit berinteraksi.

Peluang anak autistik untuk normal kembali cukup besar. Orangtua harus selalu optimis. Jangan sampai terjadi seorang anak yang memiliki peluang untuk normal menjadi hilang hanya disebabkan pilihan orangtua yang salah dalam menentukan metode dan intensitas terapi.

Penting diingat, kondisi anak sangat berbeda sehingga modal awal dan hasil akhir sangat tergantung pada kuantitas dan kualitas gejala autisme di antaranya intensitas penanganan dini, tingkat inteligensi anak, kemampuan komunikasi dan sosial, perilaku, konsistensi pola asuh keluarga, lingkungan sekolah, dan masyarakat dalam membantu anak tersebut.

Sumber: FK UGM, KemenPPPA RI, Dinas Kesehatan Kota Kupang
Ref         : Medical News Today: MediLexicon International Ltd
________: Signs & Symptoms. 2010. Centers for Disease Control and Prevention

Pos terkait