Baju Sempit Partai Ummat

  • Whatsapp
Baju Sempit Partai Ummat

Oleh : Pangi Syarwi Chaniago
Analis Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting

 

Bacaan Lainnya

Gerakan reformasi telah melambungkan nama Amien Rais pada puncak popularitas yang sangat menyakinkan. Gelar bapak reformasi sedikit demi sedikit telah membuat Amien Rais terkesan jumawa, ajakan bergabung ke kubu partai Islam dan aliansi pembentukan partai Islam baru ditolak mentah-mentah. Pernyataan kontroversial yang penuh percaya diri meski sedikit menyayat hati ummat Islam beliau ungkapkan,  baju partai Islam terlalu kecil buat beliau.

Kepercayaan diri yang tinggi dan euforia sebagai tokoh reformasi membuat Amien Rais merasa di atas awan, posisi presiden lebih beliau incar dengan kendaraan politik yang lebih inklusif dengan segmen pemilih yang lebih luas daripada hanya terpaku pada pemilih muslim semata. Partai Amanat Nasional (PAN) lahir sebagai manifestasi dari ide ini.

Tapi faktanya politik tidak semanis seperti yang diimpikan, PAN tidak mampu menjadi partai besar, sebesar idenya bahkan impiannya menjadi presiden harus kandas di tengah jalan.

Namun kini setelah 23 tahun berlalu, Amien Rais datang dengan partai baru yang terpaksa harus didirikan setelah konflik internal di tubuh Partai Amanat Nasional tidak bisa dicarikan jalan keluarnya. Tokoh reformasi ini tersingkir/diusir dari rumah yang pernah beliau didirikan sendiri dan kini punya narasi cita-cita baru mendeklarasikan partai baru yang dulu dianggap sebagai baju yang kekecilan itu tadi.

Partai Ummat yang telah dideklarasikan jelas bertolak belakang dengan  PAN dan ide politik Amien Rais diawal reformasi dulu, partai baru ini segmentasinya sangat jelas, bahasa sederhana saya segmen kolom kecil, untuk mewakili kepentingan kelompok muslim dan jargon-jargon politiknya sangat eksklusif menyasar basis pemilih muslim yang mazhab politiknya berseberangan dengan pemerintah (anti tesis).

Upaya Amien Rais untuk membangun kembali kekuatan politiknya patut kita apresiasi. Diusia beliau yang sudah tidak lagi dianggap muda beliau masih punya energi dan semangat besar untuk membangun partai politik baru, sudah menjadi rahasia umum ini bukan pekerjaan mudah.

Selain itu sebagai politisi senior, Amien Rais sudah pasti membuat perhitungan matang dan evaluasi atas perjalanan politiknya selama ini, pembentukan partai ummat walaupun secara eksplisit mempersempit ruang gerak partai baru ini namun pemilih di segmen ini masih sangat besar yang belum tergarap dan terwakili secara politik. Sejalan dengan itu, tentu kita juga akan bertanya tanya, apa diferensiasi dengan partai Islam lainnya, apakah partai terbuka atau tertutup, apakah partai berbasis figur/massa, partai berbasis ideologi, apakah partai IT, atau partai kader?

Disatu sisi pilihan untuk mempersempit zonasi wilayah pertempuran permainan adalah kelemahan, namun di sisi lain akan berubah menjadi kekuatan jika segmen basis digarap dengan serius. Ini artinya, secara tidak langsung partai-partai yang punya segmentasi dan basis pemilih yang sama akan mendapat kompetitor baru terutama bekas partainya lamanya.

Loyalis yang menganggap Amin Rais adalah guru politiknya akan merapat ke partai Ummat meski saat ini sebagian masih bertahan di PAN dengan alasan pragmatis maupun transaksional mengamankan posisi dan kepentingan jabatan politik.

Semoga ijtihad politik Amien Rais kali ini untuk melawan kezaliman dan menegakkan keadilan yang saya dengar-dengar selama ini menjadi platform ideologi partainya bisa diwujudkan, namun tetap trayek politik yang tidak lah mudah.***

Pos terkait