Jakarta, MI– Final Piala Dunia 2026 tak hanya dikenang karena keberhasilan Spanyol menjuarai dunia usai mengalahkan Argentina 1-0. Sorotan justru mengarah pada komentar tajam jurnalis olahraga asal Swiss, David Lemos, yang secara terbuka mengkritik penyelenggaraan turnamen dan menyebut edisi kali ini sebagai salah satu Piala Dunia paling bermuatan politik dalam sejarah.
Komentar tersebut disampaikan Lemos saat siaran langsung Radio Television Suisse (RTS) pada momen pengangkatan trofi oleh Spanyol. Alih-alih hanya merayakan kemenangan sang juara, ia menyampaikan monolog panjang yang mempertanyakan arah penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Lemos menilai FIFA terlalu berorientasi pada keuntungan komersial melalui harga tiket yang semakin mahal sehingga membatasi akses banyak penggemar untuk menyaksikan langsung pertandingan.
"Ini, tanpa diragukan lagi, adalah Piala Dunia paling komersial dalam sejarah dan juga salah satu yang paling sarat dengan unsur politik."
Ia juga menyinggung berbagai kontroversi yang membayangi turnamen, mulai dari persoalan pembatasan masuk terhadap suporter, jurnalis, dan perangkat pertandingan dari negara tertentu, hingga dugaan campur tangan politik dalam urusan sepak bola.
Menurut Lemos, olahraga seharusnya menjadi ruang yang bebas dari kepentingan politik. Namun, berbagai peristiwa selama Piala Dunia 2026 justru menunjukkan sebaliknya.
"Kami juga memikirkan perlakuan yang tidak dapat diterima terhadap tim Iran yang tidak dapat memperjuangkan peluang mereka dengan semestinya dalam turnamen ini."
Ia turut menyoroti kasus wasit asal Somalia, Omar Artan, yang disebut gagal bertugas karena kebijakan pembatasan masuk ke Amerika Serikat, serta polemik terkait pemain Folarin Balogun yang dinilai mencerminkan adanya intervensi politik terhadap keputusan sepak bola.
Lemos bahkan menyindir hubungan antara FIFA dan kekuasaan politik yang dianggap semakin terlihat selama turnamen berlangsung.
"Sebuah langkah politik yang menempatkan dirinya di pusat permainan, sementara federasi internasional menyatakan bahwa mereka ingin mengutamakan olahraga di atas segalanya."
Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan luas di media sosial. Sebagian warganet memuji keberanian Lemos karena menyuarakan kritik di tengah siaran final Piala Dunia, sementara sebagian lainnya menilai komentarnya terlalu politis dan menyebut setiap negara, termasuk Swiss, juga memiliki persoalannya sendiri.
Meski menuai pro dan kontra, monolog David Lemos menjadi salah satu momen paling menyita perhatian usai final Piala Dunia 2026. Kritiknya kembali memunculkan perdebatan global mengenai komersialisasi sepak bola, independensi FIFA, dan sejauh mana pengaruh politik terhadap ajang olahraga terbesar di dunia.**
