BPOM Izinkan Vaksin Covid-19 Sinovac Bagi Lansia

  • Whatsapp
BPOM Izinkan Vaksin Covid-19 Sinovac Bagi Lansia

Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akhirnya mengizinkan penggunaan vaksin Covid-19 Coronavac produksi Sinovac bagi penerima berusia 60 tahun ke atas atau lansia. Keputusan ini setelah BPOM memberikan ermergency use authorization (EUA) atau izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 Sinovac.

Sebelumnya, izin kedaruratan Sinovac sebagai vaksin Covid-19 telah dikeluarkan pada 11 Januari lalu. Namun, saat itu, hanya diperuntukkan bagi kelompok usia antara 18 sampai 59 tahun.

Kepala BPOM, Penny K Lukito mengatakan persetujuan ini sesuai dengan data yang diterima pihaknya pada uji klinik fase 1-2 di Tiongkok dan fase 3 di Brasil. Izin penggunaan vaksin untuk lansia ditetapkan mengingat tingginya angka kematian akibat Covid-19 pada kelompok lansia.

Berdasarkan data statistik KPC-PEN menunjukkan angka kematian akibat Covid-19 pada kelompok lansia menduduki porsi relatif tinggi sekitar 47,3 persen.

“Menjadi keharusan tentunya bagi pemerintah untuk menetapkan memberi pemberian penggunaan vaksin yang tersedia yaitu saat ini adalah CoronaVac menjadi prioritas untuk juga diberikan kepada kelompok lansia,” kata Penny K Lukito dalam konferensi pers virtual, Minggu (7/2/2021).

Menurutnya izin penggunaan vaksin Sinovac untuk lansia dikeluarkan pada 5 Februari 2021. Penerbitan ini dilakukan setelah mendapat data hasil uji klinik. Kajian menunjukkan diperoleh data-data keamanan dan khasiat yang cukup sehingga penggunaan vaksin bagi lansia bisa segera dapat dikeluarkan izinnya.

Penny merinci, uji klinis fase I dan II di Tiongkok yang melibatkan subjek sebanyak 400 orang, menunjukkan bahwa vaksin Coronavac yang diberikan dua dosis dengan jarak 28 hari menunjukkan hasil imunogenisitas yang baik, peningkatan kadar antibodi yang baik dengan seroconversion rate 97,96 persen.

“Data keamanan yang dapat ditoleransi dengan baik dan tidak ada efek samping serius derajat ketiga yang dilaporkan karena pemberian vaksin,” ujar Penny.

Adapun uji klinis fase III di Brazil dengan subjek 600 orang juga menunjukkan pemberian vaksin aman, tidak ada efek samping serius dan kematian akibat pemberian vaksin.

“Studi klinis hanya menunjukkan efek samping ringan seperti nyeri, demam, mual, bengkak, kemerahan pada kulit dan sakit kepala,” tuturnya.

Penny berpesan agar pemberian vaksin Covid-19 terhadap lansia tetap dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. Sebab, populasi lansia berisiko tinggi karena cenderung memiliki komorbid atau penyakit penyerta.

“Ini harus diperhatikan dalam penggunaan vaksin. Proses skrining menjadi sangat penting sebelum memutuskan pemberian vaksin terhadap lansia. Manajemen risiko harus dilaksanakan sebaik-baiknya apabila terjadi KIPI. Kita harapan angka kematian terhadap kelompok lansia menurun setelah proses vaksinasi dilakukan,” tutup dia.(hdr)

Pos terkait