Darmadi: Dalam Menyelesaikan Masalah, Mendag Harus Belajar dari Presiden Jokowi

  • Whatsapp
Darmadi: Dalam Menyelesaikan Masalah, Mendag Harus Belajar dari Presiden Jokowi
Anggota Komisi VI DPR RI dari F-PDIP, Darmadi Duriyanto.

Monitorindonesia.com – Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto meminta  menyarankan Menteri Perdagangan (Mendag), M Lutfi meniru Presiden Jokowi dalam menyelesaikan, yakni dengan membuka ruang partisipasi publik dalam bentuk dialog. Karena hanya melalui dialog, Mendag bisa menyajikan data yang komprehensif, objektif, dan bisa dipertanggungjawabkan ke publik.

“Ajak duduk bareng semua pemangku kepentingan yang terkait soal ini. Mendag harusnya belajar dari kepemimpinan Pak Jokowi yang aspiratif terhadap kepentingan rakyat,” kata Darmadi saat dihubungi, Minggu (21/3/2021).

Yang jelas, anggota Baleg DPR RI ini menegaskan, sepanjang bertolak belakang dengan kepentingan rakyat, PDI Perjuangan akan dengan tegas menolak setiap kebijakan, termasuk kebijakan impor beras.

“Apapun yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak apalagi berkaitan dengan wong cilik, PDI Perjuangan akan konsisten dan berdiri tegak bersama rakyat menolak kebijakan impor beras ini yang berpotensi merugikan,” tegasnya.

Di satu sisi, tambah politisi dari PDI Perjuangan itu, Mendag harus perhatikan kepentingan para petani, di sisi lain kepentingan publik secara luas. Supply dan demand mesti jadi patokan sebelum mengambil kebijakan.

“Saya menilai impor beras sebesar 1 juta ton oleh Kemendag tidak didasari kajian dan data yang memadai. Data Kemendag dengan data kementerian dan lembaga terkait justru saling bertolak belakang soal stok beras ini. Ini menunjukkan bahwa selama ini ego sektoral masih mengakar kuat di tiap kementerian,” tegasnya.

Berdasarkan data yang disampaikan kementerian dan lembaga terkait, kata dia, ketersediaan stok beras masih cukup. Ia piun menyinggung pernyataan Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso bahwa potensi produksi pada periode Januari sampai April 2021 diperkirakan mencapai 14,54 juta ton beras.

“Dengan kata lain itu mengalami kenaikan sebesar 3,08 juta ton (26,84 persen) dibandingkan dengan produksi beras pada subround yang sama tahun lalu sebesar 11,46 juta ton. Lalu, di mana urgensinya impor beras jika data saja menunjukkan stok masih aman?” sindir Darmadi. (Ery)

Pos terkait