Likuiditas Perekonomian Menurun, Komisi XI: Ini Jadi Perbincangan di Kalangan Dunia Usaha

Dhanis Iswara
Dhanis Iswara
Diperbarui 24 Juni 2024 19:56 WIB
Anggota Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun (Foto: Ist)
Anggota Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, menyoroti likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) Indonesia yang terus menurun hingga menjadi perbincangan di kalangan dunia usaha dan perbankan. 

"Likuiditas-likuiditas ini menjadi perbincangan di kalangan dunia usaha, termasuk di perbankan kita," kata Misbakhun dalam rapat kerja dengan Gubernur Bank Indonesia (BI), di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (24/6/2024).

Kata Misbakhun, berdasarkan data yang diberikan oleh Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI), bahwa jumlah pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) mengalami persentase pengurangan. 

"Kita pernah rapat dengan badan supervisi, dan badan supervisi memberikan data yang menguatkan bahwa jumlah M1 kita itu di pasar memang berkurang dalam jumlah persentase yang cukup signifikan," ujarnya. 

Kendati data tersebut bisa diperdebatkan kata Misbakhun, namun data ini menunjukkan adanya indikasi masalah terhadap likuiditas perekonomian. 

"Data ini walaupun bisa diperdebatkan, tetapi ini kan menjadi indikasi bahwa apa yang sebenarnya terjadi dengan likuiditas kita di pasar," ucapnya

"Tentunya kalau likuiditas itu banyak jumlahnya di pasar, saya yakin tidak akan terjadi orang yang di sektor perbankan, sektor keuangan dan lain-lain kemudian tidak membicarakan ini secara terbuka dan menyampaikan kepada para stakeholder, seperti kita (DPR)," tambahnya. 

Sebab itu, ia meminta BI sebagai Bank Sentral untuk menunjukkan data soal penguatan likuiditas perekonomian. 

"Saya kepingin tahu data yang menguatkan bahwa selama ini porsi di Bank Sentral itu tidak terjadi upaya pengecatan atau penarikan jumlah uang yang beredar itu seperti apa? Karena pada datanya kalau kita lihat jumlah uang yang beredar itu kan juga tergantung kepada durasinya,"

"Apalagi sekarang sampai direportnya Bank Indonesia ini kan jumlahnya sangat menurun nilainya 6,25 persen (yoy)," sambungnya.