BREAKINGNEWS

Telkom Masuk “50 Companies to Watch”, Strategi Baru Mulai Berbuah

Telkom Masuk “50 Companies to Watch”, Strategi Baru Mulai Berbuah
PT Telkom Indonesia (Foto: Dok MI/Aswan)

Jakarta, MI - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) masuk dalam daftar “50 Companies to Watch” edisi terbaru Bloomberg Businessweek Global. Pencapaian ini mencerminkan meningkatnya perhatian pasar global terhadap prospek pemulihan kinerja dan arah strategi bisnis perseroan ke depan.

Dalam publikasi tersebut, Telkom tercatat memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$21 miliar. Perusahaan juga diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 3% pada 2026, dengan estimasi penjualan mencapai US$9,2 miliar.

Bloomberg Businessweek menilai, setelah mengalami tekanan pada pendapatan seluler dalam dua tahun terakhir, operator telekomunikasi terbesar di Indonesia ini berada pada posisi yang lebih solid untuk mencatatkan pemulihan kinerja pada 2026.

Analis Bloomberg Intelligence, Chris Muckensturm, menyebutkan bahwa di bawah kepemimpinan baru Angga Raka Prabowo, Telkom mulai melakukan penyesuaian strategi bisnis. Langkah tersebut meliputi penyesuaian harga pada segmen entry-level, penguatan bundling layanan fixed dan seluler, serta optimalisasi pertumbuhan konsumsi data.

Selain itu, Telkom juga dinilai memiliki peluang untuk melepas aset non-inti, seperti bisnis fiber wholesale maupun menara telekomunikasi. Langkah ini berpotensi membuka ruang tambahan untuk peningkatan dividen kepada pemegang saham.

Dari sisi kinerja, riset Bina Artha Sekuritas mencatat Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp36,6 triliun pada kuartal III-2025, turun 0,9% secara tahunan (YoY), namun tumbuh 0,7% secara kuartalan (QoQ). Secara kumulatif, pendapatan selama sembilan bulan 2025 mencapai Rp109,6 triliun.

Perbaikan kinerja kuartalan tersebut didorong oleh kenaikan average revenue per user (ARPU) seluler, seiring upaya perbaikan pasar (market repair) di industri telekomunikasi. ARPU seluler meningkat menjadi Rp43.000 dari Rp41.000 pada kuartal sebelumnya, meski jumlah pelanggan turun tipis 0,5% menjadi 157,58 juta akibat rasionalisasi kartu SIM.

Segmen Data, Internet & IT Services masih mencatat penurunan 1,8% YoY, namun tumbuh 4,8% QoQ menjadi Rp23,01 triliun. Di sisi lain, trafik data mengalami penurunan 3,0% QoQ menjadi 5.757 petabyte.

Pada layanan fixed broadband, pendapatan IndiHome tercatat turun 2,6% YoY dan 1,6% QoQ menjadi Rp6,48 triliun. Meski jumlah pelanggan meningkat 7,5% YoY menjadi 11,54 juta, ARPU turun 9,4% YoY menjadi Rp216.700 seiring pergeseran preferensi pelanggan ke paket broadband-only dibandingkan bundling IPTV dan telepon.

Manajemen Telkom juga merevisi proyeksi pendapatan tahun buku 2025 dari sebelumnya relatif datar menjadi sedikit terkontraksi. Meski demikian, perseroan tetap mempertahankan target margin EBITDA di kisaran 50%.

Restrukturisasi Aset dan Spin-off Fiber

Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan membuka nilai aset, Telkom melanjutkan restrukturisasi melalui spin-off bisnis infrastruktur fiber ke entitas baru, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF).

Perusahaan telah menandatangani perjanjian bersyarat pada 20 Oktober 2025 untuk pengalihan aset senilai Rp79 triliun.

Tahap pertama mencakup 56% aset dengan nilai Rp35,78 triliun, yang menunggu persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB 12 Desember 2025 dan ditargetkan rampung pada 26 Januari 2026. Tahap kedua direncanakan selesai pada semester II-2026.

Aset yang dialihkan meliputi sekitar 83.000 kilometer jaringan backbone dan 500.000 kilometer jaringan akses (FTTx). TIF diproyeksikan menghasilkan pendapatan sekitar Rp26 triliun dengan EBITDA Rp9–10 triliun.

Langkah spin-off ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, memperkuat fokus bisnis inti, serta membuka peluang masuknya mitra strategis dengan kepemilikan 20–30% saham di TIF.

Rekomendasi Analis: Buy

Seiring prospek tersebut, Bina Artha Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham TLKM dengan target harga Rp4.000 per saham, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 13% berdasarkan valuasi 17 kali forward price to earnings (P/E).

Dalam konsensus Bloomberg, sebanyak 30 analis juga merekomendasikan buy, sementara 13 analis memberikan rekomendasi hold, tanpa adanya rekomendasi sell.

Target harga konsensus berada di level Rp3.807 per saham. Dengan posisi harga saat ini di kisaran Rp3.530, saham TLKM masih memiliki potensi kenaikan sekitar 7,8%.

Salah satu analis yang memberikan rekomendasi buy adalah Bob Setiadi dari CGS International, dengan target harga Rp4.100 per saham—menjadi salah satu yang tertinggi di pasar. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan hingga sekitar 16%.

Topik:

Adelio Pratama

Penulis

Video Terbaru