BREAKINGNEWS

Waspada Saham Gorengan, Ini Penjelasan dan Tips dari Mirae Asset

Ilustrasi. Saham
Ilustrasi saham. (Foto: Dok MI)

Jakata, MI - Belakangan ini istilah saham gorengan kembali menjadi sorotan di pasar modal, setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan membekukan sejumlah penyesuaian pada indeks global. Kebijakan itu ditempuh untuk menekan risiko investability sekaligus meningkatkan transparansi pasar.

Untuk terhindar dari saham gorengan, ada beberapa saran dari Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, untuk pelaku pasar saham (investor).

Menurut dia, istilah saham gorengan merujuk pada saham yang pergerakan harganya tidak mencerminkan mekanisme pasar yang wajar.

"Pergerakan harga saham gorengan biasanya tidak didorong oleh keseimbangan permintaan dan penawaran, melainkan lebih dipengaruhi oleh praktik manipulasi pasar," kata dia dalam keterangan resminya, Selasa (3/2/2026).

Dia menyebut, salah satu pola yang sering digunakan dalam saham gorengan adalah skema pump and dump. Di pola ini, harga saham sengaja dinaikkan secara cepat melalui transaksi tertentu, kemudian dilepas ke pasar setelah harganya tinggi. 

Investor yang membeli di harga puncak, kata dia, berisiko menanggung kerugian besar ketika harga kembali turun.

Nafan menambahkan, saham gorengan umumnya memiliki likuiditas yang rendah. Kondisi ini membuat saham tersebut relatif mudah digerakkan oleh pihak tertentu dalam waktu singkat, sehingga pergerakannya menjadi tidak stabil dan sulit diprediksi.

Untuk menghindari risiko berinvestasi di saham gorengan, Nafan menyarankan investor fokus pada saham-saham dengan likuiditas tinggi dan fundamental yang kuat. 

Salah satu acuannya adalah indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) seperti IDX30 dan LQ45, serta tetap melakukan analisis fundamental sebelum mengambil keputusan investasi.

IDX30 merupakan indeks yang mengukur kinerja harga 30 saham dengan likuiditas tinggi, kapitalisasi pasar besar, dan fundamental perusahaan yang dinilai baik. 

Saham yang masuk dalam IDX30 periode 2 Februari–30 April 2026 antara lain PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Indofood CBP Tbk (ICBP), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Corp Tbk (INKP).

Sedangkan indeks LQ45 berisi 45 saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar. 

Pada periode Februari–April 2026, saham yang tergabung dalam LQ45, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), serta PT United Tractors Tbk (UNTR).

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru