IHSG Berpotensi Uji Support 7.860-7.900, Pasar Dibayangi Risiko Global dan Inflasi

Jakarta, MI - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (Indeks Harga Saham Gabungan) berpeluang menguji area support 7.860-7.900 pada perdagangan Selasa (3/3/2026), setelah pada sesi sebelumnya melemah tajam 2,66% ke level 8.016,8.
Dalam riset terbarunya, Phintraco Sekuritas menilai tekanan pasar dipicu meningkatnya sentimen risk-off global. Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) memicu eskalasi konflik terbuka, sehingga investor cenderung menghindari aset berisiko.
Kenaikan harga minyak mentah turut menambah kekhawatiran pasar karena berpotensi mendorong inflasi. Jika tekanan inflasi berlangsung lama, risiko kenaikan suku bunga kembali mengemuka.
Meski demikian, penguatan saham-saham sektor energi dan tambang emas membantu menahan pelemahan IHSG agar tidak lebih dalam.
Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level psikologis 8.000 dan berada di atas rata-rata pergerakan 200 hari (MA200). Namun, Phintraco mencatat histogram positif MACD terus menyempit dan berisiko membentuk pola death cross.
"Apabila IHSG menembus ke bawah level 8.000, indeks berpotensi menguji support berikutnya di kisaran 7.860–7.900,” tulis Phintraco Sekuritas.
Dari sisi domestik, data menunjukkan inflasi Februari 2026 naik 0,68% secara bulanan (MoM), berbalik dari deflasi 0,15% MoM pada Januari 2026.
Kenaikan ini terutama didorong oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, yang secara historis menjadi kontributor utama inflasi menjelang Ramadan.
Secara tahunan, inflasi berakselerasi menjadi 4,76% (YoY) pada Februari 2026, dari 3,55% YoY di bulan sebelumnya, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Maret 2023.
Lonjakan ini juga dipengaruhi efek basis rendah akibat diskon tarif listrik pada awal 2025 yang menekan inflasi tahun lalu.
Sementara itu, surplus neraca perdagangan Januari 2026 menyusut menjadi USD0,95 miliar, turun dari USD3,49 miliar pada Januari 2025. Penurunan surplus terjadi seiring impor yang melonjak 18,21% YoY, sementara ekspor hanya tumbuh 3,39% YoY.
Di sisi positif, kinerja sektor manufaktur masih solid. PMI Manufaktur Indonesia meningkat ke level 53,8 pada Februari 2026 dari 52,6 di Januari, terutama ditopang oleh penguatan permintaan domestik.
Untuk perdagangan hari ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham pilihan, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Indika Energy Tbk (INDY).
Topik:
