BREAKINGNEWS

TBS Energi Utama Bukukan Rugi Rp2,7 Triliun di Sepanjang 2025

TBS Energi Utama
Logo dari PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA). (Foto: Dok Istimewa)

Jakarta, MI - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menutup tahun buku 2025 dengan mencatat rugi bersih sebesar USD162 juta atau sekitar Rp2,73 triliun (asumsi kurs Rp16.886 per dolar AS). Kerugian itu terjadi di tengah langkah perusahaan melakukan transformasi bisnis menuju sektor energi dan layanan rendah karbon.

Kerugian tersebut dipengaruhi oleh dua faktor utama. Pertama, penurunan harga batu bara global sepanjang 2025 yang menekan kinerja segmen pertambangan. Kedua, adanya kerugian non-kas dan tidak berulang sebesar USD97 juta yang muncul dari proses divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Langkah divestasi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis berbasis karbon dan mempercepat peralihan menuju sektor yang lebih ramah lingkungan.

Meski mencatat kerugian, kinerja operasional TOBA dinilai masih cukup solid. Perusahaan berhasil membukukan EBITDA disesuaikan sebesar USD47,2 juta, yang menunjukkan fundamental operasional tetap terjaga di tengah tekanan pasar komoditas.

Transformasi bisnis TOBA juga mulai terlihat dari perubahan komposisi pendapatan. Sepanjang 2025, segmen pengelolaan limbah memberikan kontribusi USD155,4 juta, atau sekitar 41% dari total pendapatan perusahaan.

Sementara itu, segmen pertambangan dan perdagangan batu bara masih menjadi penyumbang terbesar dengan pendapatan USD194,6 juta, setara 51% dari total pendapatan.

Namun, porsi pendapatan dari batu bara tersebut mengalami penurunan signifikan dibandingkan 81% pada tahun sebelumnya, seiring strategi perusahaan untuk secara bertahap mengurangi eksposur terhadap bisnis batu bara.

Perubahan komposisi ini menunjukkan portofolio bisnis TOBA kini semakin terdiversifikasi, sehingga ketergantungan terhadap fluktuasi harga batu bara global mulai berkurang.

Sepanjang 2025, perusahaan juga melakukan penataan ulang portofolio bisnis secara menyeluruh melalui strategi strategic repositioning. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat struktur keuangan perusahaan sekaligus membangun model bisnis yang lebih tangguh dalam jangka panjang.

Direktur TBS Energi Utama, Juli Oktarina menyatakan setelah melakukan strategic repositioning terhadap fondasi bisnis sepanjang 2025, perusahaan optimistis menyambut tahun 2026 dan periode pertumbuhan berikutnya.

Menurutnya, penyesuaian struktur bisnis tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang perusahaan, sekaligus untuk mempercepat pengembangan tiga pilar bisnis utama di masa depan.

"Keputusan penyesuaian struktural ini diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang, guna mengakselerasi pertumbuhan pada tiga pilar bisnis masa depan Perseroan, yakni pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik. Ketiga sektor ini merupakan layanan esensial dengan potensi pertumbuhan yang kuat, baik di Indonesia maupun di pasar internasional,” ujar dia dalam keterangan resminya, Selasa (10/3/2026).

Juli menyatakan, strategi diversifikasi ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mulai memberikan tekanan pada pasar energi dunia.

TBS Energi Utama juga mengembangkan inovasi dalam ekosistem kendaraan listrik melalui program rent-to-own untuk motor listrik Electrum, yang ditujukan untuk membantu pekerja sektor informal beralih ke kendaraan listrik dengan skema kepemilikan bertahap.

Selain membantu mengurangi dampak fluktuasi harga energi, langkah ini juga diharapkan dapat memperkuat fondasi bisnis hijau perusahaan dalam jangka panjang.

Dengan fundamental operasional yang tetap positif serta arah ekspansi ke sektor energi bersih yang semakin jelas, dia optimistis strategi transformasi tersebut dapat menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan di masa depan.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

TBS Energi Utama Bukukan Rugi Rp2,7 Triliun di Sepanjang 2025 | Monitor Indonesia