Rugi Garuda Indonesia Membengkak ke Rp5,4 Triliun di 2025, Beban Keuangan Jadi Tekanan Utama
.webp)
Jakarta, MI - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) masih menghadapi tekanan sepanjang 2025. Maskapai pelat merah ini mencatat kerugian sebesar USD319,39 juta atau sekitar Rp5,4 triliun (nilai tukar Rp16.994 per USD), melonjak tajam dibandingkan rugi tahun sebelumnya yang sebesar USD69,77 juta.
Dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Kamis (19/3/2026), dari sisi pendapatan, Garuda Indonesia membukukan USD3,21 miliar, turun dari USD3,41 miliar pada 2024.
Pendapatan terbesar masih berasal dari penerbangan berjadwal sebesar USD2,51 miliar, meski mengalami penurunan dari USD2,74 miliar.
Di sisi lain, kinerja penerbangan tidak berjadwal justru mencatat kenaikan menjadi USD340,87 juta, sementara pendapatan lainnya juga meningkat menjadi USD361,05 juta.
Secara geografis, rute domestik tetap menjadi penopang utama pendapatan. Jakarta memberikan kontribusi terbesar sebesar USD2,38 miliar, diikuti Surabaya USD228,7 juta, Makassar USD131,99 juta, dan Medan USD64,07 juta.
Untuk rute internasional, kontribusi terbesar datang dari Tokyo sebesar USD142,92 juta, disusul Singapura USD67,66 juta, Amsterdam USD66,59 juta, Shanghai USD64,33 juta, dan Sydney USD62,34 juta.
Meski perseroan berhasil menekan sejumlah beban operasional seperti biaya penerbangan, kebandaraan, serta administrasi, lonjakan di beberapa pos beban lain tetap menekan kinerja.
Beban pemeliharaan dan perbaikan meningkat signifikan menjadi USD661,36 juta, sementara beban penjualan dan promosi naik menjadi USD192,7 juta.
Selain itu, beban keuangan yang melonjak menjadi USD525,79 juta dari USD479,89 juta menjadi salah satu faktor utama membengkaknya kerugian.
Dari sisi neraca, total aset Garuda Indonesia tercatat meningkat menjadi USD7,43 miliar, dengan porsi liabilitas dan ekuitas masing-masing menjadi USD7,33 miliar dan USD91,91 juta.
Topik:
