BREAKINGNEWS

Perayaaan Lebaran akan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Capai 5,5%

Perayaaan Lebaran akan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Capai 5,5%
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi nasional. (Foto: Dok Istimewa)

Jakarta, MI - Momentum mudik Idulfitri kembali menjadi pendorong utama aktivitas ekonomi nasional. Fenomena tahunan ini tidak hanya melibatkan pergerakan jutaan orang, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang menggerakkan berbagai sektor ekonomi secara bersamaan.

Secara historis, konsumsi rumah tangga selama periode mudik meningkat sekitar 15%-20% dibandingkan bulan normal. Hal ini didorong oleh tingginya mobilitas masyarakat serta meningkatnya perputaran uang di berbagai daerah. Bahkan, pelaku UMKM di daerah bisa mengalami lonjakan pendapatan hingga 50%-70% selama periode ini.

Data empiris juga menunjukkan dampak signifikan mudik terhadap perekonomian. Berdasarkan kajian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan. Dampak ini terjadi karena adanya redistribusi uang dari kota besar ke daerah, sehingga memperluas peredaran ekonomi secara lebih merata.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto menegaskan, setiap pengeluaran pemudik menciptakan dampak berlapis bagi berbagai sektor, mulai dari UMKM, perdagangan, hingga transportasi. Oleh karena itu, sinergi kebijakan dan penguatan peran UMKM menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi ekonomi dari momentum Lebaran.

Untuk Idulfitri 2026, prospek ekonomi diperkirakan semakin positif. Evaluasi tahun sebelumnya mencatat pergerakan masyarakat mencapai 154,62 juta orang, dan angka tersebut diprediksi meningkat pada tahun ini. 

"Kondisi ini diharapkan dapat mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5,5%-5,6%," ucap dia dalam keterangan resminya, seperti dikutip Sabtu (21/3/2026).

Dia menyebut, optimisme tersebut didukung oleh berbagai stimulus pemerintah, seperti stimulus fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, bantuan sosial Rp11,92 triliun untuk 5,04 juta keluarga, dan diskon tarif transportasi sebesar Rp911,16 miliar.

Dengan konsumsi rumah tangga yang menyumbang sekitar 53%-54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), kebijakan ini diyakini mampu menjaga daya beli sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, pemerintah juga terus menghadirkan berbagai kebijakan pendukung, seperti diskon tiket transportasi, penurunan biaya penerbangan, program mudik gratis, hingga kebijakan work from anywhere (WFA). 

"Kebijakan WFA dinilai efektif karena tidak hanya mengurangi kepadatan arus mudik, tetapi juga memperpanjang durasi tinggal masyarakat di kampung halaman, sehingga mendorong belanja lebih besar di daerah," jelas dia.

Meski di tengah tekanan global akibat konflik geopolitik, pemerintah memastikan fundamental ekonomi domestik tetap kuat. Stabilnya harga energi, termasuk komitmen tidak menaikkan harga BBM, turut menjaga daya beli masyarakat.

Dengan berbagai faktor tersebut, momentum mudik Lebaran 2026 diproyeksikan kembali menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Perayaaan Lebaran akan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Capai 5,5% | Monitor Indonesia