BREAKINGNEWS

Laba Freeport Indonesia Ambles Hampir 40% di 2025

Laba Freeport Indonesia Ambles Hampir 40% di 2025
Tambang PT Freeport Indonesia (Foto: Repro)

Jakarta, MI - Kinerja PT Freeport Indonesia (PTFI) sepanjang 2025 tercatat melemah cukup dalam. Laba bersih perusahaan anjlok hampir 40%, terutama karena penjualan tembaga dan emas yang merosot.

Berdasarkan laporan keuangan, laba bersih Freeport berada di angka US$2,52 miliar (sekitar Rp42 triliun), turun 38,85% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$4,13 miliar. Penurunan ini sejalan dengan pendapatan yang ikut menyusut dari US$10,31 miliar menjadi US$8,62 miliar.

Penjualan dari komoditas utama jadi sumber tekanan terbesar. Pendapatan dari penjualan emas dalam bentuk konsentrat turun menjadi US$1,81 miliar dari sebelumnya US$2,21 miliar. Penjualan emas olahan juga mengalami penurunan, menjadi US$1,68 miliar dari US$2,02 miliar.

Penjualan tembaga dalam bentuk konsentrat juga mengalami penurunan yang cukup signifikan, menjadi US$2,69 miliar dari US$3,73 miliar pada tahun 2024. Penjualan perak dalam bentuk konsentrat tercatat sebesar US$83,85 juta, sementara penjualan plat tembaga anjlok dari US$3,03 miliar menjadi hanya US$2,61 miliar.

Di sisi lain, biaya justru naik. Beban penjualan meningkat dari US$4,45 miliar menjadi US$4,71 miliar. Dampaknya, laba kotor turun ke US$3,91 miliar atau Rp65,3 triliun, dan laba usaha ikut tergerus menjadi US$3,78 miliar.

Setoran ke negara juga ikut menurun. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari Freeport turun menjadi sekitar US$112 juta, sementara bagian untuk pemerintah daerah juga ikut berkurang.

Penurunan laba ini juga tercermin dari laba per saham (earnings per share/EPS) yang turun menjadi US$6.670,99 dari US$10.907,38 pada 2024.

Produksi PTFI sepanjang 2025 relatif lebih rendah dibandingkan dengan periode 2024. Hal ini disebabkan oleh kecelakaan pada tambang bawah tanah Grasberg sejak September 2025.

Freeport-McMoRan (FCX), mencatat produksi tembaga PTFI hanya mencapai sekitar 1,01 miliar pon, turun dari 1,8 miliar pon pada 2024. Penjualan tembaga juga ikut menurun, begitu pula produksi dan penjualan emas yang anjlok hampir setengahnya.

Menariknya, di tengah penurunan produksi, harga komoditas justru naik. Harga tembaga rata-rata pada 2025 tercatat sebesar US$4,53 per pon, meningkat 8,1% dibandingkan 2024 yang berada di level US$4,19 per pon. Harga emas melonjak signifikan menjadi US$3.418 per troy ons, naik 41,4% dari US$2.418 per troy ons pada tahun sebelumnya.

Manajemen FCX menyebut turunnya produksi disebabkan berhentinya aktivitas di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave pada September 2025, setelah terjadi banjir lumpur. Padahal, dalam kondisi normal, tambang bawah tanah PTFI mampu memproduksi sekitar 1,7 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas per tahun, serta menjadi salah satu operasi tambang dengan biaya terendah di dunia.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru