Saham Anjlok 20% dalam Sepekan, Dian Swastika Sentosa Buka Suara

Jakarta, MI - Pergerakan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengalami penurunan tajam dalam waktu singkat. Dalam periode 12-17 Maret 2026, harga sahamnya turun sekitar 20%, dari Rp75.600 menjadi Rp60.475 per lembar.
Penurunan drastis ini menarik perhatian Bursa Efek Indonesia (BEI), mengingat DSSA merupakan salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar besar yang turut memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menanggapi hal tersebut, manajemen DSSA buka suara. Menurut Direktur DSSA David Fernando Audy, pelemahan harga saham bukan disebabkan oleh faktor internal perusahaan.
"Tekanan lebih banyak berasal dari sentimen global," kata dia mengutip keterbukaan informasi BEI, Senin (30/3/2026).
Beberapa faktor eksternal yang memicu tekanan tersebut antara lain meningkatnya ketegangan geopolitik, ketidakpastian arah suku bunga global, fluktuasi harga komoditas, serta pergerakan nilai tukar.
Kondisi ini mendorong investor melakukan aksi jual, tidak hanya pada DSSA tetapi juga saham lainnya di pasar. Hal tersebut turut berdampak pada IHSG yang turun dari level 7.362,12 pada 12 Maret menjadi 7.106,84 pada 17 Maret 2026.
Dia menegaskan tidak ada perubahan fundamental perusahaan maupun aksi korporasi tertentu yang menjadi pemicu langsung penurunan harga saham.
Selain itu, tidak terdapat perubahan kepemilikan saham signifikan oleh direksi, komisaris, maupun pemegang saham utama yang perlu dilaporkan kepada regulator.
Di sisi lain, DSSA tetap melanjutkan sejumlah rencana strategis untuk mendorong kinerja ke depan. Beberapa di antaranya adalah rencana stock split dengan rasio 1:25, serta penggabungan bisnis layanan internet MyRepublic dengan Mora Telematika Indonesia (MORA).
Selain itu, melalui anak usahanya, DSSA juga tengah mengembangkan proyek energi baru terbarukan melalui kerja sama dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia, serta berpartisipasi dalam lelang pita frekuensi 1,4 GHz di sejumlah wilayah Indonesia.
"Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperkuat fundamental bisnis perseroan di tengah tekanan pasar global," pungkas dia.
Topik:
