Ancaman Kekeringan Mengintai, Kementan Andalkan Pompanisasi Jaga Produksi Pangan

Jakarta, MI - Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan siap menghadapi potensi El Nino ekstrem yang diperkirakan mulai berdampak pada April. Ancaman kekeringan yang berpotensi mengganggu produksi pangan menjadi perhatian serius pemerintah.
Oleh karena itu, berbagai langkah mitigasi tidak hanya disiapkan dalam bentuk kebijakan, tetapi juga difokuskan pada kesiapan teknis di lapangan.
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alam Syah, mengatakan pengalaman menghadapi El Nino pada 2023 menjadi pelajaran penting dalam menyusun strategi saat ini.
Menurutnya, pemerintah kini memperkuat berbagai upaya antisipasi dengan mempercepat intervensi, mengoptimalkan sarana dan prasarana, serta memastikan petani siap memanfaatkan bantuan yang telah diberikan.
“Pemerintah sejak 2023 hingga 2025 telah menyalurkan sebanyak 80.158 unit pompa air kepada kelompok tani di seluruh Indonesia. Ini adalah aset strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk menghadapi potensi kekeringan,” tuturnya, dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Sabtu (4/4/2026).
Ia menambahkan, pompa air yang diberikan melalui bantuan pemerintah (banpem) bukan sekadar bantuan biasa, melainkan instrumen produksi yang harus dijaga dan digunakan secara kolektif. Selain itu, ketersediaan sumber air dan pengelolaan distribusi di lapangan juga menjadi faktor penting agar pemanfaatannya maksimal.
“Optimalkan pemanfaatan pompa yang sudah ada. Pastikan sumber air disiapkan, saluran diperbaiki, dan distribusi air diatur dengan baik. Ini kunci agar lahan tetap produktif meskipun tekanan iklim meningkat,” tegasnya.
Sejalan dengan upaya tersebut, Kementan juga mengimbau para petani dan pemangku kepentingan di daerah untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini. Upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan mengidentifikasi sumber air, memperbaiki galengan, hingga mengatur pola tanam dan pergiliran air secara efektif.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengingatkan bahwa pengalaman menghadapi El Nino pada 2023 menunjukkan pentingnya respons cepat dalam menghadapi tekanan iklim. Saat itu, ancaman kekeringan sempat memunculkan rencana impor beras hingga 10 juta ton, namun jumlah tersebut berhasil ditekan melalui berbagai langkah intervensi pemerintah.
“Dulu tahun 2023 itu ada El Nino juga yang tidak kalah kerasnya, dahsyatnya. Rencana waktu itu saya masih ingat dalam Ratas kita mau impor beras 10 juta ton. Tapi dengan kerja keras, paralel, sambil kita kerja keras mengantisipasi El Nino, kita melakukan pompanisasi, irigasi, oplah, itu kita berhasil menekan impor hanya sekitar 3 juta ton,” ungkapnya.
Ia menilai, kombinasi pompanisasi, perbaikan irigasi, dan optimalisasi lahan terbukti menjadi kunci dalam menjaga produksi dan ketahanan pangan nasional.
Oleh karena itu, pemerintah juga mendorong petani untuk tidak menunggu dampak El Nino terjadi. Petani diharapkan dapat bergerak lebih awal dengan memanfaatkan sarana yang telah tersedia agar produktivitas pertanian tetap terjaga.
Topik:
