Jakarta, MI - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Maret 2026 mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun, atau setara 0,93% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Defisit tersebut terjadi karena realisasi belanja negara di awal tahun lebih besar dibandingkan pendapatan. Tercatat, hingga Maret 2026 pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun atau sekitar 18,2% dari target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun.
Di sisi lain, belanja negara sudah mencapai Rp815 triliun, atau sekitar 21,2% dari total pagu Rp3.842,7 triliun.
“Ketika ada defisit, masyarakat tidak perlu kaget karena memang APBN dirancang dalam kondisi defisit,” kata Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR, Senin (6/4/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah kini mengubah pola belanja agar lebih merata sepanjang tahun. Langkah ini diambil untuk mempercepat dorongan fiskal ke perekonomian sejak awal tahun anggaran.
Menurut Purbaya, pola penyaluran belanja yang lebih merata sepanjang tahun membuat defisit pada triwulan pertama 2026 tercatat lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebagai gambaran, pada Maret 2025 defisit APBN tercatat sebesar Rp99,8 triliun atau sekitar 0,41% terhadap PDB. Sementara pada Maret 2026, defisit meningkat sekitar 140,5% secara tahunan.
Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 mencapai Rp689,1 triliun, yang setara dengan 2,68% terhadap PDB.
Di sisi penerimaan, realisasi pendapatan negara hingga awal tahun menunjukkan tren positif. Hingga Februari 2026, penerimaan mencapai Rp 358 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 317,4 triliun.
Rinciannya, penerimaan perpajakan tercatat Rp462,7 triliun atau sekitar 17,2% dari target Rp2.693,7 triliun. Sementara penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp67,9 triliun atau 20,2% dari target Rp336 triliun.
Adapun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat Rp112,1 triliun, atau sekitar 24,4% dari target Rp459,2 triliun.
Di sisi pengeluaran, realisasi belanja negara hingga akhir Maret 2026 tercatat mencapai Rp815 triliun, yang menunjukkan adanya percepatan realisasi belanja pemerintah di awal tahun.
Sementara itu, defisit keseimbangan primer tercatat sebesar Rp95,8 triliun. Dalam APBN 2026, pemerintah menargetkan keseimbangan primer berada di angka Rp89,7 triliun sepanjang tahun anggaran.

