Jakarta, MI - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (9/4/2026). Setelah kemarin melonjak 4,42% ke level 7.279,2, IHSG kini diproyeksikan menguji level resistance di kisaran 7.300-7.350.
Menurut riset Phintraco Sekuritas, sentimen positif pasar dipicu kabar meredanya ketegangan geopolitik setelah muncul laporan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
"Presiden Donald Trump disebut menunda rencana serangan terhadap infrastruktur Iran selama dua pekan," tulis riset Phintraco Sekuritas.
Kabar tersebut langsung mendorong penurunan harga minyak dunia. Harga minyak mentah WTI turun sekitar 15% ke level USD95 per barel, sementara Brent melemah lebih dari 13% ke kisaran USD94 per barel hingga Rabu sore.
Penurunan harga minyak memberi sentimen positif bagi pasar saham, termasuk di Indonesia. Pada perdagangan kemarin, seluruh sektor saham menguat, dengan sektor bahan baku mencatat kenaikan tertinggi sebesar 8,91%, seiring menguatnya harga komoditas logam.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai tren positif IHSG masih berlanjut. Hal ini terlihat dari histogram MACD yang masih positif, kenaikan volume beli, serta indikator Stochastic RSI yang menunjukkan momentum penguatan.
Selain itu, IHSG juga telah menembus rata-rata pergerakan jangka pendek MA5 dan MA20, yang mengindikasikan peluang kenaikan lanjutan.
Di sisi lain, rupiah juga menguat 0,55% ke level Rp17.012 per dolar AS, didorong sentimen positif meredanya tensi global.
Meski demikian, pasar juga masih mencermati penurunan cadangan devisa Indonesia pada Maret 2026 menjadi USD148,2 miliar, dari sebelumnya USD151,9 miliar pada Februari. Penurunan ini terutama dipicu langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan pasar global.
Namun, posisi cadangan devisa tersebut masih dinilai aman karena setara dengan 6 bulan impor, jauh di atas standar internasional sekitar 3 bulan impor.
Untuk perdagangan hari ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang layak dicermati, yakni Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Central Asia (BBCA), Unilever Indonesia (UNVR), Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT), dan Astra International (ASII).

