Rupiah Ditekan Gejolak Global, BI Perkuat Intervensi Pasar

Jakarta, MI - Bank Indonesia (BI) terus memperkuat strategi kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Ketegangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah, dinilai turut menekan pasar keuangan, harga komoditas, hingga perdagangan internasional.
Hal itu disampaikan Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti dalam seminar bertajuk “Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global” yang digelar di Jakarta seperti dikutip selasa (14/4/2026).
"Kondisi global saat ini sebagai situasi yang tidak biasa. Oleh karena itu, diperlukan respons kebijakan yang konsisten, antisipatif, dan terukur guna menjaga ketahanan ekonomi Indonesia," kata dia.
Menurutnya, tekanan global telah meningkatkan volatilitas di pasar keuangan dan nilai tukar rupiah. Untuk merespons hal tersebut, BI mengoptimalkan berbagai instrumen moneter secara berkelanjutan dan tepat waktu.
Langkah yang diambil antara lain memperkuat intervensi di pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF), serta intervensi di pasar domestik melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Upaya ini juga didukung oleh cadangan devisa Indonesia yang dinilai masih kuat. Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa tercatat mencapai USD148,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
"BI juga memperketat aturan transaksi valuta asing di dalam negeri. Kini, transaksi valas di atas USD50 ribu wajib dilengkapi dengan dokumen underlying, guna memastikan transaksi tersebut benar-benar mendukung aktivitas ekonomi yang sehat," ungkap Destry.
Chief Economist BCA, David Sumual menambahkan stabilitas rupiah tidak hanya dilihat dari level nilai tukarnya, tetapi juga dari tingkat volatilitasnya.
"Kestabilan pergerakan nilai tukar menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor dan pelaku usaha," jelas David.
Topik:
