BREAKINGNEWS

BNI Perkuat Modal Lewat Obligasi AT-1

BNI Perkuat Modal Lewat Obligasi AT-1
PT Bank Negara Indonesia (BNI) (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) berencana menerbitkan Additional Tier-1 Perpetual Non-Cumulative Capital Securities (AT-1) baru di luar negeri. Dalam keterbukaan informasi, BNI menyebut penerbitan ini akan mengacu pada ketentuan Regulation S dalam US Securities Act of 1933.

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menjelaskan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat rasio dan struktur permodalan perseroan guna mendukung ekspansi bisnis.

Selain itu, bank pelat merah ini juga berencana melakukan buyback atau pembelian kembali atas Additional Tier 1 Perpetual Non-Cumulative Capital Securities yang diterbitkan tahun 2021 (AT1 Eksisting) melalui mekanisme penawaran tender.

"Dalam rangka memperkuat rasio dan struktur permodalan untuk mendukung ekspansi bisnis, Perseroan berencana melakukan penerbitan AT1 Baru dan secara bersamaan melaksanakan Tender Offer kepada pemegang AT1 Eksisting untuk membeli kembali AT1 Eksisting secara tunai, sebagai bagian dari optimalisasi struktur permodalan," tutur Okki dalam keterbukaan informasi, dikutip Rabu (15/4/2026).

Periode partisipasi dalam tender offer berlangsung pada 14-22 April 2026, dengan penyelesaian (settlement) direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 24 April 2026. Sementara itu, hasil untuk penerbitan AT1 Baru dan pelaksanaan Tender Offer atas AT1 Eksisting tersebut di atas akan bergantung antara lain pada kondisi pasar.

Terkait rencana tersebut, pada 14 April 2026 BNI telah mengumumkan penerbitan rencana penerbitan AT1 Baru dan rencana pembelian kembali instrumen AT1 Eksisting dari pemegang AT1 Eksisting dengan mekanisme Tender Offer.

Pada hari yang sama, perseroan juga telah melakukan rangkaian investor call di kawasan Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA).

"Penerbitan AT1 Baru dan pelaksanaan Tender Offer atas AT1 Eksisting diharapkan memberikan dampak positif terhadap struktur permodalan Perseroan serta mendukung pengembangan kegiatan usaha Perseroan," ujar Okki.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penerbitan AT-1 baru dilakukan di luar Indonesia dan tidak ditawarkan kepada investor Indonesia baik individu, institusi maupun bentuk hukum lainnya. Dengan demikian, rencana tersebut tidak mengacu pada ketentuan Peraturan OJK No. 30/POJK.04/2019 tentang Penerbitan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk yang Dilakukan Tanpa Melalui Penawaran Umum (POJK 3012019).

Instrumen AT-1 baru ini nantinya akan dicatatkan di Singapore Exchange dan tidak dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Meski begitu, BNI belum merincikan lebih lanjut berapa nilai AT1 baru yang hendak diterbitkan.

Sebagai informasi, sebelumnya BNI pernah menerbitkan Additional Tier-1 Capital Bond pada 2021 senilai US$600 juta atau sekitar Rp8,6 triliun (dengan asumsi kurs saat itu Rp14.299 per dolar AS). 

Surat berharga yang dilepas dengan suku bunga 4,3% per tahun ini merujuk pada ketentuan Regulation S, berdasarkan US Securities Act, dan didaftarkan di Singapore Stock Exchange. BNI merupakan Bank pertama di Indonesia yang menerbitkan instrumen permodalan Additional Tier 1 ini.

Obligasi AT1 merupakan obligasi bank yang dianggap sebagai bentuk utang junior yang relatif berisiko, sehingga memiliki imbal hasil yang lebih tinggi dan sering dibeli oleh investor institusional.

Instrumen ini juga kerap dikenal sebagai contingent convertibles atau “CoCos”. Nama ini berasal dari kemampuan untuk mengonversinya menjadi ekuitas atau menghapusnya, sehingga nilainya menjadi nol, tetapi hanya dalam skenario tertentu.

Kondisi tersebut biasanya terkait dengan rasio modal bank yang menerbitkan obligasi tersebut. Jika rasio modal turun di bawah batas tertentu, misalnya, rencana darurat bagi investor untuk mengonversi kepemilikan mereka menjadi pilihan.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru