PDIP Ungkap Bahaya Fiskal Indonesia Bila Perang Iran vs AS Tak Selesai

Jakarta, MI - Perang Iran versus Israel-Amerika Serikat masih terus berlangsung. Bila perang tersebut tidak selesai sampai Mei atau Juni, Indonesia akan mengalami bahaya dari sisi ekonomi.
Demikian diprediksi oleh politisi PDIP, Hendrawan Supratikno saat dihubungi monitorindonesia.com, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
"Kalau perang terus berlangsung sampai Mei-Juni, daya tahan fiskal kita bahaya, bahaya sekali, bisa menghadapi masalah fiskal, kurs mata uang lemah, dan krisis kepercayaan," kata Hendrawan.
Ia menyebutkan, dengan perang yang terus berlangsung, otomatis harga minyak dunia meningkat. Bagi Indonesia, dengan Harga minyak dunia yang tinggi tersebut, pemerintah akan memberikan subsidi yang besar sehingga menimbulkan defisit.
"Kalau harga minyak tak terkendali, maka subsidi semakin besar, kalau subsidi semakin besar, maka defisit juga semakin besar dan terancam, melebihi 4 persen," kata mantan anggota Komisi XI DPR RI itu.
Dengan kondisi demikian, sambungnya, pemerintah diminta melakukan langkah-langkah seperti melakukan refocusing seperti saat Covid-19 lalu.
"Berarti pemerintah harus melakukan refocusing supaya program yang bukan prioritas dikurangi dan itu juga menimbulkan kontraksi pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan 5 persen akan susah tercapai. World Bank menyatakan akan terjadi defisit 4,7, IMFjuga telah memprediksi terjadi penurunan atau defisit," ujarnya.
Ia menyebutkan, salah satu yang perlu direfokusing adalah Program Makan Bergizi Gratis. Sebab, sambungnya, MBG adalah program yang banyak menimbulkan kebocoran keuangan negara.
"Semua yang tidak prioritas dan tidak potensial, yang menimbulkan kebocoran karena teknokrasi, perencanaan dan tata Kelola buruk harus ditinjau ulang.
Iya (MBG), itu sudah jelas, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)," pungkas Hendrawan.
Topik:
