Pemerintah Perkuat Manufaktur untuk Dongkrak Ekonomi

Jakarta, MI - Pemerintah terus berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tetap stabil di tengah ketidakpastian global yang meningkat, mulai dari konflik geopolitik hingga gangguan rantai pasok dunia.
Salah satu fokus utama adalah memperkuat sektor industri pengolahan, khususnya manufaktur, yang selama ini menjadi penopang penting ekonomi. Sektor ini berkontribusi besar terhadap PDB, penciptaan lapangan kerja, investasi, dan ekspor.
Pada 2025, industri pengolahan tumbuh 5,30%, sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11%. Hal ini menunjukkan peran strategis sektor manufaktur dalam menjaga daya tahan ekonomi.
Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan kondisi global saat ini penuh ketidakpastian dan bisa berdampak ke berbagai sektor dalam beberapa bulan ke depan.
"Industri manufaktur menjadi salah satu sektor yang paling terdampak, terutama karena gangguan pasokan bahan baku, kenaikan biaya produksi, dan hambatan distribusi," ucap dia dalam keterangan resminya, seperti dikutip Jumat (1/5/2026).
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah. Salah satunya melalui Keppres Nomor 4 Tahun 2026 yang bertujuan mempercepat program prioritas dan membantu pelaku usaha mengatasi hambatan di lapangan.
Selain itu, pemerintah juga memberikan kemudahan akses bahan baku dan melakukan penyesuaian kebijakan impor agar produksi industri tetap berjalan.
Di sisi lain, stabilitas ekonomi tetap dijaga, terutama terkait inflasi, nilai tukar, dan daya beli masyarakat.
"Kebijakan fiskal dan moneter juga terus diselaraskan agar ekonomi tetap tumbuh tanpa mengabaikan kehati-hatian," ungkap dia.
Pemerintah berharap langkah-langkah ini dapat menjaga iklim usaha tetap kondusif dan mendorong investasi, khususnya di sektor industri pengolahan, agar ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah tekanan global.
Topik:
