Indef: BI dan Pemerintah Harus Jaga Pasar agar Rupiah Tak Terus Tertekan

Jakarta, MI - Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.400 per USD menjadi sinyal kuat bahwa tekanan terhadap perekonomian Indonesia masih cukup besar.
Bahkan, bila pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tidak berhati-hati, maka rupiah akan kian melemah dari posisi yang ada saat ini.
Untuk itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman meminta Bank Indonesia (BI) dan pemerintah dapat menjaga kepercayaan pasar.
Menurutnya, kredibilitas dan konsistensi kebijakan menjadi kunci agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin melebar dan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi.
"Kalau kepercayaan pasar tidak dijaga, tekanan ini bisa berkembang menjadi risiko yang lebih besar bagi perekonomian," ucap dia kepada Monitorindonesia.com, Rabu (6/5/2026).
Pelemahan Rupiah Banyak Dipicu dari Faktor Eksternal
Rizal menekankan, tekanan terhadap rupiah saat ini banyak dipicu oleh berbagai faktor eksternal, seperti suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS), penguatan dolar AS, konflik geopolitik, hingga arus keluar modal dari negara berkembang.
Di sisi lain, pasar juga mulai mencermati kondisi dalam negeri. Kekhawatiran terhadap defisit fiskal, tingginya impor energi, serta menurunnya kepercayaan investor terhadap aset berisiko, termasuk Indonesia, ikut memperburuk tekanan terhadap rupiah.
Rizal menilai kondisi ini tidak serta-merta menunjukkan kegagalan pemerintah maupun BI. Sebab, hampir seluruh mata uang di negara berkembang juga mengalami tekanan serupa.
Namun demikian, ia menyoroti bahwa intervensi yang dilakukan BI saat ini lebih berfokus pada menjaga stabilitas pergerakan rupiah agar tidak terlalu bergejolak, bukan untuk membalikkan tren pelemahan secara permanen.
"Intervensi saat ini lebih untuk menahan volatilitas agar tidak terlalu liar, belum sampai mengubah arah pelemahan rupiah secara menyeluruh," tegas dia.
Rizal menambahkan, tekanan terhadap rupiah juga terlihat dari masih besarnya arus keluar modal asing serta pergerakan pasar saham yang cenderung melemah.
"Hal ini menunjukkan bahwa investor global masih bersikap hati-hati (risk off) terhadap pasar modal Indonesia," tutup Rizal.
Topik:
