BREAKINGNEWS

Rupiah Terjun Bebas, Indef: Risiko Tekanan Ekonomi Makin Besar

Rupiah Terjun Bebas, Indef: Risiko Tekanan Ekonomi Makin Besar
Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS. (Foto: Dok. MI)

Jakarta, MI - Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.400 per USD dinilai menjadi sinyal kuat bahwa tekanan terhadap perekonomian Indonesia sedang meningkat. Meski rupiah kini menguat ke posisi Rp17.326 per USD di pasar spot pada perdagangan Kamis (7/5/2026).

Tekanan tersebut datang dari kombinasi faktor global dan domestik yang membuat pasar semakin berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk Indonesia.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman mengatakan kondisi global masih menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Pasar saat ini masih dibayangi suku bunga tinggi di AS, penguatan dolar, konflik geopolitik, hingga arus keluar modal dari negara berkembang (capital outflow).

Namun di sisi lain, pasar juga mulai menyoroti sejumlah tantangan dari dalam negeri, seperti potensi defisit fiskal, tingginya tekanan impor energi, serta menurunnya kepercayaan investor terhadap instrumen berisiko di pasar domestik.

"Tekanan terhadap rupiah saat ini memang cukup berat karena dipengaruhi faktor eksternal dan domestik secara bersamaan," kata dia kepada Monitorindonesia.com, seperti diberitakan Kamis (7/5/2026).

Meski demikian, ia menilai kondisi ini belum bisa langsung disebut sebagai kegagalan Bank Indonesia (BI) maupun pemerintah. Sebab, hampir seluruh mata uang negara berkembang juga tengah mengalami tekanan serupa akibat ketidakpastian global.

Rizal menjelaskan, langkah intervensi yang dilakukan BI saat ini lebih diarahkan untuk menjaga stabilitas pergerakan rupiah agar tidak terlalu bergejolak. Namun, intervensi tersebut dinilai belum cukup untuk membalikkan tren pelemahan rupiah secara permanen.

"Intervensi saat ini terlihat lebih untuk menjaga volatilitas agar tidak terlalu liar, bukan membalikkan tren pelemahan rupiah secara permanen," ungkap dia.

Ia menambahkan, masih besarnya arus modal asing yang keluar serta tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan investor global masih cenderung mengambil posisi aman atau risk off terhadap Indonesia.

Maka dari itu, Rizal menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang kredibel dan konsisten. 

Menurutnya, BI dan pemerintah perlu memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga agar tekanan terhadap rupiah tidak berkembang menjadi risiko yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

"Kepercayaan pasar dan kredibilitas kebijakan harus dijaga agar tekanan terhadap rupiah tidak melebar menjadi ancaman terhadap stabilitas ekonomi," pungkas dia.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Rupiah Tertekan, Indef: Risiko Tekanan Ekonomi Makin Besar | Monitor Indonesia