BREAKINGNEWS

Indonesia - Filipina Perkuat Industri Baterai dan Energi Bersih

Indonesia - Filipina Perkuat Industri Baterai dan Energi Bersih
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Dok Istimewa)

Jakarta, MI - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina, Maria Cristina A. Roque, menyaksikan penandatanganan kerja sama strategis industri nikel antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tersebut berlangsung dalam forum Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Jpark Island Resort, Kamis (7/5), di sela rangkaian KTT AECC ke-27.

Kerja sama ini menjadi langkah penting untuk memperkuat kolaborasi industri nikel antara Indonesia dan Filipina yang saat ini menguasai sebagian besar produksi nikel dunia.

Berdasarkan data USGS 2026, Indonesia dan Filipina secara bersama menguasai sekitar 73,6 persen produksi nikel global pada 2025. Indonesia menjadi produsen terbesar dengan kontribusi sekitar 66,7 persen atau 2,6 juta ton, sedangkan Filipina menyumbang sekitar 270 ribu ton.

Dari sisi cadangan, Indonesia juga memiliki sekitar 44,5 persen cadangan nikel dunia atau mencapai 62 juta ton. Sementara Filipina memiliki sekitar 4,8 juta ton cadangan nikel.

Menko Airlangga mengatakan kerja sama ini akan menjadi fondasi pembentukan “Indonesia-Philippines Nickel Corridor”, yaitu jalur strategis yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel dari Filipina.

"Kolaborasi tersebut akan memperkuat rantai pasok industri nikel regional sekaligus menjadi pusat cadangan dan produksi nikel dunia," kata dia dalam keterangan resminya, seperti diberitakan Minggu (10/5/2026).

Kerja sama APNI dan PNIA mencakup pertukaran informasi untuk menjaga stabilitas perdagangan nikel global, pengembangan teknologi hilirisasi dan produk turunan nikel, hingga pengembangan sumber daya manusia untuk mendukung industri nikel berkelanjutan.

Airlangga menjelaskan Indonesia saat ini telah memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang besar dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai sekitar USD9,73 miliar sepanjang 2025.

Pemerintah juga menargetkan investasi industri nikel mencapai 47,36 miliar dolar AS hingga 2030 dengan potensi penyerapan tenaga kerja lebih dari 180 ribu orang.

Menurutnya, kerja sama ini akan menguntungkan kedua negara. Filipina dapat lebih terintegrasi dalam rantai industri bernilai tambah tinggi, sementara Indonesia memperoleh kepastian pasokan bahan baku untuk industri baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat.

Airlangga juga menegaskan nikel kini menjadi komoditas penting dalam transisi energi global karena digunakan untuk baterai kendaraan listrik hingga penyimpanan energi panel surya.

"Karena itu, pemerintah terus mendorong pengembangan kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk mempercepat hilirisasi nikel dan meningkatkan daya saing industri mineral kritis Indonesia di pasar global," tutup dia.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Indonesia - Filipina Perkuat Industri Baterai dan Energi | Monitor Indonesia