IHSG Diprediksi Masih Tertekan Sepanjang Hari Ini

Jakarta, MI - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih rawan melemah pada perdagangan Senin (12/5/2026), setelah pada akhir pekan lalu ditutup anjlok 2,86 persen ke level 6.969,4.
Dalam risetnya, Phintraco Sekuritas menjelaskan tekanan terhadap IHSG dipengaruhi sejumlah sentimen negatif, baik dari global maupun domestik.
Dari eksternal, pasar masih dibayangi memanasnya kembali konflik Amerika Serikat dan Iran yang memicu koreksi di bursa saham global.
Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati rencana pemerintah menaikkan tarif royalti progresif untuk sejumlah komoditas tambang seperti nikel, tembaga, emas, perak, dan timah.
Selain itu, data cadangan devisa Indonesia pada April 2026 tercatat turun menjadi 146,2 miliar dolar AS dari sebelumnya 148,2 miliar dolar AS pada Maret 2026. Meski menjadi posisi terendah sejak Juli 2024, level tersebut dinilai masih aman karena setara pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Tekanan juga datang dari sektor properti. Indeks harga properti residensial pada kuartal I-2026 hanya tumbuh 0,62 persen secara tahunan atau year on year )YoY), melambat dibanding kuartal IV-2025 yang tumbuh 0,83 persen YoY. Angka tersebut menjadi pertumbuhan paling rendah sejak 2003.
Pada pekan ini, investor juga menunggu sejumlah data ekonomi domestik seperti indeks keyakinan konsumen, penjualan ritel, dan penjualan sepeda motor.
Selain itu, pasar akan mencermati hasil rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada 12 Mei 2026.
Sedangkan MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi bergerak melemah ke area 6.645 hingga 6.838. Namun dalam skenario terbaik, IHSG masih berpeluang menguat menguji level 7.207 sampai 7.418.
Untuk perdagangan hari ini, MNC Sekuritas merekomendasikan empat saham pilihan untuk trading, yakni AADI, BULL, INCO, dan MAPA.
Topik:
