Jakarta, MI - Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) demi mencapai target swasembada energi nasional. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melanjutkan kerja sama proyek migas dengan perusahaan asal Rusia, Joint Stock Company Zarubezhneft (JSC Zarubezhneft).
Hal tersebut dibahas dalam pertemuan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot dengan pejabat Zarubezhneft di sela kunjungan kerja ke Rusia untuk menghadiri Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 Indonesia–Rusia di Kazan, Rusia.
Dalam pertemuan itu, Zarubezhneft menyatakan siap melanjutkan pengembangan Proyek Blok Tuna di Laut Natuna mulai Juni 2026. Sebelumnya, proyek tersebut sempat tertunda setelah mundurnya Premier Oil, anak usaha Harbour Energy, dari kerja sama proyek.
"Kami membahas kelanjutan proyek Blok Tuna yang sempat tertunda. Zarubezhneft menyampaikan komitmennya untuk melanjutkan proyek tersebut pada Juni mendatang, dan pemerintah akan mendukung kelanjutannya,” ujar Yuliot dalam keterangan resminya.
Zarubezhneft sendiri mulai masuk ke proyek Blok Tuna sejak 2020 melalui anak usahanya, ZN Asia Ltd., setelah mengakuisisi 50% participating interest (PI) di proyek tersebut.
Selain melanjutkan Blok Tuna, perusahaan migas Rusia itu juga menyatakan minat untuk mengembangkan proyek migas lain di Indonesia. Fokus kerja sama diarahkan pada peningkatan produksi migas melalui teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan reaktivasi sumur minyak yang sudah tidak aktif.
Ketertarikan Zarubezhneft untuk memperluas investasi di Indonesia juga telah dicatat dalam dokumen resmi hasil Sidang Komisi Bersama RI–Rusia.
Pihak Rusia bahkan meminta dukungan pemerintah Indonesia untuk mempercepat proses perizinan dan compliance perusahaan-perusahaan yang akan ditunjuk Zarubezhneft dalam rencana suplai minyak ke Indonesia.
Kerja sama ini diharapkan dapat membantu meningkatkan lifting migas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah tingginya kebutuhan energi domestik.

