Jakarta, MI - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 30 April 2026 menyusut menjadi Rp164,4 triliun atau setara 0,64% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut Purbaya, posisi fiskal tersebut membaik dibandingkan Maret 2026 yang saat itu mencatat defisit sebesar 0,93% terhadap PDB.
"Ini berita gembira. Realisasi sampai April 2026 defisitnya tinggal Rp164,4 triliun atau 0,64% dari PDB," ujar Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Dari sisi penerimaan, pendapatan negara hingga akhir April 2026 tercatat mencapai Rp918,4 triliun atau tumbuh 13,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penerimaan perpajakan masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp746,9 triliun atau naik 13,7% secara tahunan.
"Angka tersebut terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp646,3 triliun atau 27,4% dari target APBN, serta penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp100,6 triliun atau 29,9% dari target," ungkap dia.
Purbaya menyoroti kinerja bea dan cukai yang mengalami peningkatan signifikan dalam satu bulan terakhir.
“Penerimaan bea dan cukai sebelumnya Rp67,9 triliun, sekarang sudah Rp100,6 triliun. Naiknya sekitar Rp33 triliun atau hampir 50 persen,” katanya.
Sementara itu, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp171,3 triliun atau tumbuh 11,6% dan setara 37,3% dari target APBN 2026.
Di sisi pengeluaran, realisasi belanja negara hingga akhir April 2026 mencapai Rp1.082,8 triliun atau 28,2% dari total pagu APBN. Nilai tersebut meningkat 34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Belanja negara terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp826 triliun dan transfer ke daerah (TKD) Rp256,8 triliun.
Belanja pemerintah pusat tercatat melonjak 51,1% secara tahunan, sedangkan transfer ke daerah turun tipis sebesar 1%.
Selain itu, pemerintah juga mencatat keseimbangan primer surplus Rp28 triliun hingga akhir April 2026. Sementara realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp298,5 triliun.

