BREAKINGNEWS

Gejolak Global Tekan Rupiah dan Pasar Saham, Investor Harus Selektif

Gejolak Global Tekan Rupiah dan Pasar Saham, Investor Harus Selektif
Papan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Foto: Dok. MI)

Jakarta, MI - Tekanan terhadap pasar keuangan global dan domestik semakin meningkat sepanjang kuartal II-2026. Konflik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, pelemahan rupiah, hingga derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia membuat volatilitas pasar kian tinggi.

Di tengah kondisi tersebut, investor diminta lebih selektif dan defensif dalam menyusun strategi investasi.

Hal itu disampaikan dalam Media Day PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia bertajuk The Q2 Blueprint: Turning Volatility into Value pada Rabu (20/5/2026).

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Adityo Nugroho mengatakan kondisi ekonomi global saat ini masih dibayangi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak Brent menembus USD100 per barel.

Selain itu, terganggunya distribusi minyak akibat menurunnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz ikut meningkatkan tekanan inflasi global dan memicu ketidakpastian di pasar keuangan.

“Situasi geopolitik membuat pasar global sangat sensitif, terutama terhadap pergerakan harga energi,” ujar Adityo dalam keterangan resminya.

Di Amerika Serikat, inflasi April 2026 tercatat sebesar 3,8%, sementara harga rata-rata BBM nasional mencapai USD4,515 per galon. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Fenomena bond vigilante juga kembali muncul, tercermin dari tingginya yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai 4,661%, sedangkan obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun berada di level 5,126%.

Dari dalam negeri, Mirae Asset menilai tekanan terhadap rupiah belum tentu harus direspons dengan kenaikan agresif suku bunga oleh Bank Indonesia.

Menurut Adityo, Mirae Asset memiliki pandangan berbeda dari konsensus pasar. Mereka memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026, meskipun pasar sebelumnya memperkirakan kenaikan menjadi 5%.

“Kenaikan suku bunga memiliki efektivitas terbatas untuk merespons tekanan struktural terhadap rupiah. Selain itu, ruang pengetatan juga dipengaruhi beban fiskal pemerintah yang cukup besar,” jelasnya.

Saat ini nilai tukar rupiah tercatat melemah ke kisaran Rp17.700 per USD. Meski demikian, kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) masih relatif stabil di level 12,72% per 13 Mei 2026.

Mirae Asset juga menilai melambatnya inflasi domestik di tengah kenaikan inflasi AS dapat menjadi bantalan bagi stabilitas rupiah melalui pelebaran selisih suku bunga riil (real interest rate gap).

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Gejolak Global Tekan Rupiah dan Pasar Saham | Monitor Indonesia