Jakarta, MI— Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran pasar. Tekanan terhadap mata uang domestik dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok hingga memaksa Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan.
Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot hingga Selasa (2/6/2026) pukul 14.42 WIB, rupiah melemah 37,50 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.842 per dolar AS.
Pelemahan ini membalikkan penguatan sehari sebelumnya saat rupiah sempat ditutup menguat di level Rp17.805 per dolar AS.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan rupiah akan berdampak langsung terhadap kenaikan harga barang impor yang selama ini masih mendominasi kebutuhan dalam negeri.
“Barang-barang impor seperti kacang kedelai, jagung, pupuk, ini pasti akan berdampak negatif. Kita harus tahu bahwa banyak barang di dalam negeri masih bergantung impor,” kata Ibrahim.
Menurutnya, kenaikan biaya impor bakal memukul harga bahan baku dan biaya produksi yang akhirnya dibebankan kepada masyarakat melalui kenaikan harga barang dan kebutuhan pokok.
Ibrahim memperingatkan pelemahan rupiah yang terus berlangsung bisa memicu lonjakan inflasi nasional.
Jika tekanan inflasi semakin tinggi, BI dinilai hampir pasti akan kembali mengambil langkah pengetatan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan.
“Pada saat inflasi tinggi kemungkinan besar Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga,” ujarnya.
Ia bahkan memprediksi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berpotensi diputuskan dalam rapat dewan gubernur BI bulan Juni 2026.
“Bisa saja dalam pertemuan bulan Juni ini Bank Sentral Indonesia menaikkan suku bunga 25 basis point,” katanya.
Sebelumnya, dalam Rapat Dewan Gubernur Mei 2026, BI sudah lebih dulu menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor global dan domestik. Dari luar negeri, konflik geopolitik di Timur Tengah dan tingginya permintaan aset aman masih membayangi mata uang negara berkembang.
Sementara di dalam negeri, kebutuhan dolar AS untuk impor minyak dan komoditas strategis terus meningkat.
Jika kondisi ini terus berlanjut, biaya produksi diperkirakan makin mahal dan berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Pelaku pasar kini menunggu langkah BI berikutnya di tengah ancaman inflasi, kenaikan harga impor, dan gejolak ekonomi global yang belum mereda.**

