Jakarta, MI - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Mata uang Garuda ditutup turun 127 poin ke posisi Rp17.966 per USD, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.839 per USD.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor domestik dan global, termasuk meningkatnya inflasi serta memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.
Menurut Ibrahim, inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28% secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 0,13%. Kenaikan tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang naik dari 111,09 pada April menjadi 111,40 pada Mei 2026.
Sementara itu, secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Indonesia mencapai 3,08%.
"Kenaikan inflasi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah," ujar Ibrahim dalam keterangan resminya.
Ia menjelaskan, inflasi Mei dipicu oleh sejumlah komponen utama, seperti kenaikan harga pangan bergejolak (volatile food), harga energi, tarif yang diatur pemerintah (administered prices), serta pelemahan nilai tukar rupiah itu sendiri.
Dari sisi perdagangan luar negeri, Indonesia masih mencatatkan surplus neraca perdagangan pada April 2026 sebesar USD89,1 juta. Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus tersebut terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatatkan surplus sebesar USD3,53 miliar.
Meski demikian, Ibrahim menilai surplus perdagangan April mengalami penyusutan yang cukup signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Kondisi ini dinilai mencerminkan tekanan terhadap daya beli dan ketahanan eksternal Indonesia di tengah terganggunya rantai pasok global.
Lanjut dia menyatakan, salah satu penyebab utama adalah ketidakpastian di kawasan Selat Hormuz yang hingga kini masih terdampak konflik dan mengganggu arus perdagangan energi dunia.
Dari faktor eksternal, pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Israel melanjutkan operasi militernya di Lebanon selatan, sementara Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke wilayah Kuwait dan Bahrain.
Di saat yang sama, pasukan Amerika Serikat dilaporkan melakukan operasi militer di Pulau Qeshm, Iran, yang berada dekat Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Pasar juga masih menunggu perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun kedua negara sebelumnya mengumumkan adanya kesepakatan kerangka kerja sementara untuk meredakan konflik, hingga kini kesepakatan tersebut belum memperoleh pengesahan resmi.
Kombinasi tekanan inflasi domestik, menyusutnya surplus perdagangan, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini.

