BREAKINGNEWS

Rupiah Rp18.000 per USD, Menkeu: Indonesia Jauh dari Krisis 1998

Rupiah Rp18.000 per USD, Menkeu: Indonesia Jauh dari Krisis 1998
Ilustrasi rupiah. (Foto: Dok. Istimewa)

Jakarta, MI - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan rupiah hingga menembus level Rp18.000 per USD tidak dapat disamakan dengan kondisi yang terjadi menjelang krisis ekonomi 1997-1998.

Menurut Purbaya, fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan periode krisis Asia hampir tiga dekade lalu. Karena itu, masyarakat dan pelaku pasar tidak perlu khawatir bahwa Indonesia sedang menuju situasi serupa.

"Kita tidak sedang menuju kondisi seperti tahun 1997-1998. Fiskal kita sehat, ekonomi juga tetap berjalan baik. Yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen negatif yang memberi tekanan pada nilai tukar," ujar Purbaya saat kunjungan kerja ke Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok, Jakarta, seperti diberitakan Minggu (7/6/2026).

Dia menjelaskan, kondisi keuangan negara, stabilitas sektor perbankan, serta koordinasi kebijakan ekonomi saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis moneter melanda Indonesia pada akhir 1990-an.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) akan terus mempererat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Langkah tersebut dilakukan guna memperkuat kepercayaan investor sekaligus menjaga stabilitas pasar keuangan.

Purbaya mengatakan salah satu fokus pemerintah adalah meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik agar aliran modal asing kembali masuk ke pasar Indonesia. Selain itu, stabilitas likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan juga terus dijaga.

"Pemerintah juga akan mengoptimalkan pengelolaan dana kas negara yang ditempatkan di Bank Indonesia melalui skema remunerasi yang dinilai lebih efektif untuk mendukung stabilitas sistem keuangan," ungkap dia.

Lanjut dia menyatakan, sinergi yang semakin kuat antara pemerintah dan BI tidak hanya penting untuk menjaga nilai tukar, tetapi juga membantu menekan biaya produksi dunia usaha, terutama sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Purbaya menegaskan bahwa hingga saat ini kondisi fiskal tetap terkendali dan aktivitas ekonomi nasional masih bergerak sesuai target pembangunan pemerintah.

"Saya bisa memastikan kondisi fiskal kita baik, ekonomi juga tetap kuat, dan kepemimpinan Presiden masih solid untuk memastikan seluruh agenda pembangunan berjalan sesuai rencana," katanya.

Dia berharap koordinasi yang lebih erat antara kebijakan fiskal dan moneter dapat meredam tekanan terhadap rupiah, mengembalikan kepercayaan pasar, serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Topik:

Dian Ihsan

Penulis

Video Terbaru

Rupiah Rp18.000 per USD, Menkeu: Indonesia Jauh dari Krisis | Monitor Indonesia