BREAKINGNEWS

Daya Saing RI Kembali Turun, Kini Duduki Peringkat 48 Dunia

Daya Saing RI Kembali Turun, Kini Duduki Peringkat 48 Dunia
Kota Jakarta (Foto: Istimewa)

Jakarta, MI - Daya saing Indonesia dalam laporan IMD World Competitiveness 2026 mengalami penurunan. Berdasarkan pemeringkatan yang dirilis International Institute for Management Development (IMD), posisi Indonesia turun dari peringkat 40 pada 2025 menjadi peringkat 48 pada 2026.

Jika ditelusuri dalam beberapa tahun terakhir, tren penurunan ini sebenarnya sudah terlihat sejak 2025. Pada 2022 Indonesia berada di peringkat 44, kemudian naik ke posisi 34 pada 2023 dan mencapai peringkat terbaiknya di posisi 27 pada 2024. Namun setelah itu, peringkat Indonesia turun ke posisi 40 pada 2025 dan kembali merosot ke posisi 48 pada tahun ini.

“Tantangan yang dihadapi pada tahun 2026 adalah konfrontasi ekonomi global mengancam ketahanan energi nasional,” dikutip dari dokumen yang diterima pada Rabu (24/6/2026).

Selain itu, Indonesia juga masih menghadapi sejumlah tantangan lain, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan, penataan kembali alokasi anggaran pemerintah, infrastruktur dan kompetensi sumber daya manusia yang belum memadai, serta keterbatasan ketersediaan sumber pembiayaan.

Pada kelompok negara dengan jumlah penduduk lebih dari 20 juta jiwa, posisi Indonesia turun dari peringkat 16 menjadi 21. Sementara di kawasan Asia Pasifik, peringkat Indonesia juga turun dari 11 menjadi 14.

Meski demikian, kinerja ekonomi masih menjadi salah satu kekuatan utama Indonesia. Dalam pilar economic performance, komponen harga menempati peringkat 10 dunia, ekonomi domestik berada di peringkat 24, ketenagakerjaan menempati peringkat 28, investasi internasional di peringkat 37, dan perdagangan internasional berada di peringkat 50.

Pada aspek efisiensi pemerintah (government efficiency), kebijakan pajak menjadi indikator yang mencatat performa terbaik dengan menempati peringkat 12 dunia. Adapun keuangan publik berada di posisi 25, regulasi bisnis di posisi 43, kerangka kelembagaan di peringkat 50, dan kerangka sosial di peringkat 54.

Sementara pada pilar efisiensi bisnis (business efficiency), pasar tenaga kerja menjadi komponen terkuat dengan peringkat 21. Di sisi lain, sektor keuangan berada di posisi 51, indikator sikap dan nilai masyarakat di peringkat 53, produktivitas dan efisiensi hanya menempati posisi 53, dan praktik manajemen di posisi 55.

Adapun sektor yang masih membutuhkan banyak pembenahan adalah infrastruktur. Infrastruktur dasar saat ini berada di peringkat 42, infrastruktur teknologi di posisi 47, dan infrastruktur ilmiah di peringkat 48. Sementara itu, komponen pendidikan tercatat di posisi 63, sedangkan kesehatan dan lingkungan menjadi yang terendah dengan menempati peringkat 65 dunia.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Daya Saing RI Kembali Turun, Kini Duduki Peringkat 48 Dunia | Monitor Indonesia