Jakarta, MI - Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Fauzi Amro mengatakan, dibutuhkan penyesuaian kenaikan harga minyak dunia dan melemahnya rupiah terhadap dolar AS dalam membahas RAPBN 2027.
"Jadi nanti karena ini baru pengantar tentang KEM KPPF, otomatis batas atas dan bawah atas juga harus dipertimbangkan. Begitupun harga dolar, ini sudah Rp18 ribuan, sementara harga dolar yang dipatok itu kan Rp16 ribu sekian, artinya kan harus bisa menyesuaikan juga. Saya setuju, karena kalau tidak menyesuaikan nanti akan jebol APBN-nya," kata Fauzi Amro, Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Politisi Partai NasDem itu mengusulkan agar dalam membahas RAPBN 2027 dimasukkan batas atas dan batas bawah untuk harga minyak dan rupiah
"Karena perkembangan geopolitik maupun yang lain itu sangat dinamis sekarang. Walaupun pengantar, range-nya berapa idealnya? Range-nya kan kalau menurut saya yang APBN yang kemarin misalnya harga dolar Rp16.500 sampai di range misalnya Rp18.000, misalnya kayak gitu. Harga minyak misalnya range-nya Rp65 per barel sampai Rp100 atau Rp90 per barel. Jadi ketika APBN dibahas di bulan Agustus dan September, itu kita sudah mendapat gambaran," kata Fauzi Amro.
Terkait defisit per hari ini kan, ketika bicara APBN kan sumber pendapatan yang paling besar itu kan 82% dari pajak. Nah memang di tahun 2025 kemarin kita shortfall pajak kita sekitar Rp270 triliun, itu yang menyebabkan depisit kita naik triliun, Rp270 triliun, 86%. Nah itu yang menyebabkan depisit kita dari Rp2,6 menjadi Rp2,92.
"Nah kita berharap, janji Pak Purbaya (Menteri Keuangan) pertumbuhan di bulan Mei pajak kita sudah 22%, artinya sangat optimis dengan pendapatan negara kita yang memang target pendapatan negara kita di angka Rp3.100 sampai Rp3.200 triliun," ujar anggota DPR RI dari Dapil Sumsel I itu.
