Jakarta, MI - Harga minyak dunia melesat pada perdagangan Senin setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran. Kebijakan itu memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global di tengah memanasnya konflik di Selat Hormuz.
Harga minyak Brent melonjak 9,6% ke US$83,30 per barel, mencatat kenaikan harian terbesar sejak Mei 2020. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 9,4% ke US$78,14 per barel.
"Kami memberlakukan kembali blokade Iran, yang dinamakan demikian karena hanya menghentikan kapal-kapal Iran atau pelanggan mereka untuk masuk maupun keluar. Seluruh negara lain tetap dapat menggunakan Selat Hormuz secara terbuka dan adil," tulis Trump di media sosialnya.
Trump juga memastikan AS tetap menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, ia meminta kompensasi 20% dari nilai seluruh kargo yang melintasi jalur strategis tersebut.
Keputusan itu diambil setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan telah menggempur Iran pada Minggu, sehari setelah menyerang sekitar 140 sasaran pada Sabtu. Operasi itu disebut sebagai balasan atas serangan Korps Garda Revolusi Islam Iran terhadap kapal kontainer di Selat Hormuz.
Iran membalas dengan menyerang sejumlah fasilitas militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman, seperti dilaporkan kantor berita Tasnim.
Media pemerintah Iran juga mengklaim Korps Garda Revolusi menutup Selat Hormuz hingga batas waktu yang belum ditentukan. Namun, klaim itu dibantah oleh militer AS.
"Pasukan AS telah ditempatkan dan siap memastikan kebebasan navigasi tetap terjaga meskipun ada agresi, intimidasi, ancaman, maupun pernyataan sepihak dari Iran. Iran tidak menguasai Selat Hormuz. Lalu lintas pelayaran tetap berjalan," tulis CENTCOM.
Dalam wawancara dengan NBC News, Trump menegaskan Selat Hormuz masih terbuka bagi pelayaran internasional.
Perusahaan intelijen maritim Windward mencatat sedikitnya sembilan kapal melintasi Selat Hormuz pada Sabtu. Sementara Joint Maritime Information Center (JMIC), koalisi angkatan laut pimpinan AS di Bahrain, menyebut jalur di perairan Oman di sisi selatan masih aman digunakan kapal yang keluar maupun masuk Teluk.
Meski begitu, JMIC mengingatkan ancaman keamanan di Selat Hormuz masih sangat tinggi sehingga kapal diminta meningkatkan kewaspadaan.
Serangan udara sepanjang akhir pekan menjadi operasi pengeboman keempat AS terhadap Iran dalam sepekan terakhir sebagai balasan atas serangan terhadap kapal dagang di koridor selatan Selat Hormuz.
Pasokan Minyak Kembali Terancam
Ketegangan terbaru dipicu perbedaan tafsir antara Washington dan Teheran terkait mekanisme pembukaan kembali Selat Hormuz berdasarkan kesepakatan damai sementara yang diteken pada 17 Juni.
Sebelum konflik memanas, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Volume pelayaran sempat turun setelah Iran menyerang kapal-kapal dagang pada awal Maret, lalu berangsur pulih usai kedua negara mencapai kesepakatan sementara.
Kini, konflik kembali memanas dan memicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan minyak dunia.
