BREAKINGNEWS

Trump Gempur Iran Lagi Hingga Semua Nuklirnya Hancur, Harga Minyak Dunia Tembus US$90 per Barel

Trump Gempur Iran Lagi Hingga Semua Nuklirnya Hancur, Harga Minyak Dunia Tembus US$90 per Barel
Trump Gempur Iran Lagi Hingga Semua Nuklirnya Hancur, Harga Minyak Dunia Tembus US$90 per Barel

Jakarta, MI– Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman serangan baru terhadap Iran. Eskalasi konflik itu langsung mengguncang pasar energi global dengan mendorong harga minyak Brent menembus US$90 per barel, level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan harga minyak mencapai sekitar 7 persen dalam sehari, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi dunia.

Pernyataan Trump muncul setelah terjadi serangan terhadap pasukan Amerika Serikat di Yordania. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan Iran akan menghadapi serangan balasan atas agresi tersebut.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan rudal balistik ke pangkalan udara dan pusat komando militer Amerika Serikat di Yordania. Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa sebagian wilayah negaranya kembali menjadi sasaran serangan Amerika Serikat.

Di balik meningkatnya konfrontasi tersebut, terdapat sejumlah faktor utama yang selama bertahun-tahun menjadi sumber ketegangan antara Washington dan Teheran. Program nuklir Iran menjadi isu paling krusial. 

Pemerintahan Trump menolak melanjutkan perjanjian nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) karena menilai kesepakatan itu tidak cukup ketat untuk mencegah Iran mengembangkan kemampuan menuju senjata nuklir. Washington berpendapat kemampuan nuklir Iran dapat mengancam keamanan Israel dan mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah.

Selain itu, Amerika Serikat terus menuding Iran memberikan dukungan finansial, persenjataan, dan pelatihan kepada berbagai kelompok proksi bersenjata di Timur Tengah. Kelompok-kelompok tersebut dituduh kerap menyerang kepentingan Amerika Serikat maupun negara-negara sekutunya di kawasan.

Faktor lain yang memperkuat sikap keras Washington adalah komitmen menjaga keamanan sekutu, terutama Israel dan sejumlah negara Teluk. Amerika Serikat menilai penguatan kemampuan militer Iran perlu dibatasi demi menjaga keseimbangan kekuatan dan mencegah meluasnya konflik di Timur Tengah.

Perkembangan terbaru ini menandai babak baru dalam konflik yang sepanjang Juli 2026 terus mengalami pasang surut. Setelah sempat mereda melalui jalur diplomasi, konfrontasi kini kembali meningkat sehingga memicu gejolak di pasar komoditas global.

Harga minyak Brent sendiri bergerak sangat volatil sepanjang bulan ini dengan rentang fluktuasi mendekati US$32 per barel. Naik-turunnya harga dipengaruhi oleh eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk aksi kelompok Houthi yang didukung Teheran di kawasan Laut Merah yang turut mengganggu jalur perdagangan energi internasional.

Lonjakan harga minyak memperkuat kekhawatiran bahwa konflik yang semakin meluas dapat mengganggu distribusi energi global. Jika ketegangan terus meningkat, biaya energi diperkirakan akan semakin mahal dan berpotensi memicu tekanan inflasi di banyak negara, termasuk negara-negara pengimpor minyak.

Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan dari Washington dan Teheran. Setiap perkembangan militer maupun diplomatik diperkirakan akan menjadi faktor penentu arah harga minyak dunia dalam beberapa hari ke depan, di tengah kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah dapat berkembang menjadi krisis yang lebih luas.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Trump Gempur Iran Lagi Hingga Semua Nuklirnya Hancur, Harga Minyak Dunia Tembus US$90 per Barel | Monitor Indonesia