Jakarta, MI– Minat investor terhadap instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mulai menunjukkan pelemahan. Kondisi tersebut mendorong Bank Indonesia (BI) memangkas nilai serapan hasil lelang sekaligus mengubah komposisi tenor untuk menjaga fleksibilitas kebijakan moneter di tengah ketidakpastian global.
Data lelang SRBI pada 24 Juli 2026 menunjukkan total penawaran investor turun tajam menjadi Rp28,21 triliun, merosot Rp9,72 triliun atau 25,63 persen dibandingkan lelang sebelumnya yang mencapai Rp37,93 triliun pada 17 Juli 2026.
Penurunan terjadi di seluruh tenor. Penawaran SRBI tenor enam bulan anjlok lebih dari 50 persen menjadi Rp2,24 triliun dari sebelumnya Rp4,64 triliun. Tenor sembilan bulan mencatat penurunan terdalam secara persentase hingga 61,4 persen, sementara tenor 12 bulan yang selama ini menjadi favorit investor turun 21,15 persen menjadi Rp25,69 triliun.
Melemahnya permintaan tersebut mengindikasikan perbankan mulai memiliki alternatif penempatan dana, baik untuk ekspansi kredit, membeli Surat Berharga Negara (SBN), maupun memenuhi kebutuhan likuiditas di pasar uang. Kondisi itu juga tercermin dari kepemilikan SRBI oleh perbankan yang turun menjadi Rp615,71 triliun pada Juni 2026, dari Rp677,89 triliun pada Mei.
Merespons kondisi tersebut, BI menurunkan nominal SRBI yang dimenangkan dalam lelang menjadi Rp15 triliun, turun 11,76 persen dari sebelumnya Rp17 triliun.
Selain memangkas serapan, BI juga mengubah komposisi tenor. Alokasi tenor enam bulan dinaikkan hampir empat kali lipat menjadi Rp793 miliar, dari sebelumnya Rp200 miliar. Sebaliknya, tenor sembilan bulan dipangkas menjadi hanya Rp64 miliar, sementara tenor 12 bulan masih mendominasi sekitar 94 persen dari total pemenang lelang.
Langkah itu dinilai sebagai upaya BI memperbesar porsi instrumen jangka pendek agar memiliki ruang yang lebih fleksibel dalam menyesuaikan operasi moneter apabila kondisi pasar global berubah dengan cepat, terutama di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Meski permintaan menurun, tingkat imbal hasil SRBI masih relatif tinggi dan kompetitif. Yield rata-rata tertimbang tenor enam bulan tercatat 7,20 persen, tenor sembilan bulan 7,41 persen, dan tenor 12 bulan 7,63 persen. Angka tersebut masih berada di atas imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor satu tahun yang berada di kisaran 7,02 persen, sehingga tetap menarik bagi investor.
Ketertarikan investor asing pun masih terlihat. Kepemilikan SRBI oleh investor nonresiden meningkat menjadi Rp293,16 triliun pada Juni 2026, naik dari Rp216,48 triliun pada Mei.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Hutapea, menegaskan Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter, termasuk SRBI, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menarik aliran modal asing.
"BI terus berkomitmen menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global yang tinggi. Stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," ujar Erwin.
Pelemahan permintaan SRBI menunjukkan mulai bergesernya preferensi penempatan dana investor domestik. Namun, tingginya minat investor asing dan penyesuaian strategi lelang yang dilakukan BI menandakan bank sentral masih memiliki ruang yang kuat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan efektivitas kebijakan moneternya.**
