Jakarta, MI – Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (30/7/2026) setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta meredanya tekanan inflasi turut mendorong investor kembali memburu aset safe haven.
Di pasar spot, harga emas naik 1,1 persen menjadi US$4.109,94 per ounce. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,9 persen ke level US$4.108,30 per ounce.
Penguatan emas dipicu melemahnya indeks dolar AS sekitar 0,9 persen, sehingga logam mulia menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.
Sentimen positif juga datang dari keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen. Namun, Ketua The Fed Kevin Warsh belum memberikan sinyal tegas mengenai arah kebijakan moneter berikutnya, sehingga pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Data FedWatch Tool dari CME Group menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan 15–16 September 2026 turun menjadi sekitar 57 persen, dari sebelumnya sekitar 77 persen sebelum rapat The Fed.
Di sisi lain, Departemen Perdagangan AS melaporkan Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index turun 0,1 persen pada Juni, sesuai ekspektasi pasar. Data tersebut memperkuat keyakinan bahwa tekanan inflasi mulai mereda, meski risikonya masih tinggi.
Global Head of Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek, menilai data inflasi memang menunjukkan perbaikan, tetapi ancaman baru datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik.
"Data PCE sedikit lebih baik dari perkiraan pasar. Untuk saat ini inflasi relatif stabil, tetapi pasar minyak masih menjadi persoalan," ujar Melek.
Ia mengingatkan konflik di Timur Tengah berpotensi kembali mendorong harga minyak, yang pada akhirnya dapat memicu lonjakan inflasi global.
"Inflasi mungkin sedikit terkendali saat ini, tetapi kondisi itu dapat dengan mudah berubah jika ketidakstabilan di Timur Tengah terus berlanjut," tambahnya.
Perkembangan geopolitik, khususnya meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta pembahasan terkait keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, juga menjadi perhatian investor. Ketidakpastian tersebut membuat emas kembali diminati sebagai instrumen lindung nilai.
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan. Perak menguat 1,5 persen menjadi US$58,52 per ounce, platinum naik 1,9 persen ke US$1.641,78 per ounce, sedangkan palladium mencatat kenaikan terbesar, melonjak 3,8 persen menjadi US$1.294,50 per ounce.**
