Jakarta, MI - PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) harus menelan pil pahit pada paruh pertama 2026. Emiten pengelola Bursa Aset Kripto CFX itu membukukan rugi bersih Rp26 miliar pada semester I-2026, berbalik dari laba bersih Rp25,5 miliar yang diraih pada periode sama tahun lalu.
Pelemahan pasar aset kripto, baik di level global maupun domestik, menjadi faktor utama yang menekan kinerja perseroan. Volatilitas yang tinggi membuat aktivitas perdagangan melambat, seiring investor memilih mengalihkan portofolionya ke instrumen yang dinilai lebih defensif.
Kondisi tersebut turut menggerus pendapatan COIN. Hingga akhir Juni 2026, perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp74,6 miliar atau anjlok 34% dibandingkan semester I-2025 yang mencapai Rp113,1 miliar.
Tekanan itu sejalan dengan koreksi pasar kripto global. Sepanjang kuartal II-2026, kapitalisasi pasar aset kripto dunia turun 12,6% secara kuartalan menjadi USD2,1 triliun dari sebelumnya USD2,4 triliun.
Di dalam negeri, aktivitas transaksi juga ikut melemah. Nilai perdagangan aset kripto di Indonesia menyusut 11,6% secara kuartalan menjadi Rp67,03 triliun dari Rp75,83 triliun.
Meski pasar sedang tertekan, COIN masih menemukan sumber pertumbuhan dari bisnis derivatif aset kripto.
Direktur Utama PT Indokripto Koin Semesta Tbk Ade Wahyu mengatakan segmen derivatif mulai menjadi penopang baru bagi kinerja perseroan.
"Segmen ini terbukti memiliki daya tahan yang baik dan mulai bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan baru bagi COIN," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/7/2026).
Di tengah tekanan laba, kondisi neraca perseroan masih terjaga. COIN membukukan aset lancar sebesar Rp366,6 miliar, dengan tingkat likuiditas sekitar 17 kali lebih besar dibandingkan total liabilitas.
Perseroan juga melanjutkan strategi efisiensi dan deleveraging. Hingga akhir Juni 2026, total liabilitas berhasil dipangkas 61% menjadi Rp21,1 miliar.
Sementara itu, realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) telah mencapai Rp49,99 miliar atau sekitar 24% dari total dana yang dihimpun sebesar Rp220,59 miliar.
Dana tersebut dialokasikan untuk memperkuat sistem dan infrastruktur anak usaha, yakni PT Central Finansial X (CFX) sebagai Bursa Aset Kripto dan PT Kustodian Koin Indonesia (ICC) sebagai lembaga penyimpanan aset kripto yang telah mengantongi izin dan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Kami mengedepankan strategi yang prudent dan berlandaskan prinsip kehati-hatian dalam penggunaan dana hasil IPO, guna memastikan pemanfaatannya dilakukan secara efisien dan tepat sasaran," tutup Ade.
