BREAKINGNEWS

BUMA International Perkuat Kinerja, EBITDA Semester I 2026 Naik 8 Persen Meski Pendapatan Turun

BUMA International Perkuat Kinerja, EBITDA Semester I 2026 Naik 8 Persen Meski Pendapatan Turun
BUMA International Perkuat Kinerja, EBITDA Semester I 2026 Naik 8 Persen Meski Pendapatan Turun

Jakarta, MI– PT BUMA International Group mencatatkan peningkatan kinerja operasional pada semester pertama 2026 dengan membukukan EBITDA sebesar 69 juta dolar AS, naik 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 64 juta dolar AS, meski perusahaan menghadapi penurunan pendapatan dan tekanan kenaikan biaya operasional.

Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, mengatakan kenaikan EBITDA mencerminkan keberhasilan perusahaan memperbaiki margin keuntungan serta meningkatkan efisiensi biaya di seluruh lini bisnis. Menurutnya, tanpa tekanan kenaikan harga bahan bakar, EBITDA perseroan diperkirakan dapat mencapai hampir 78 juta dolar AS.

Di sisi lain, BUMA masih mencatat rugi bersih sebesar 50 juta dolar AS pada semester I 2026. Namun angka tersebut membaik 37 persen dibandingkan rugi bersih 80 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbaikan kinerja tersebut didorong sejumlah faktor non-operasional, antara lain keuntungan 12 juta dolar AS dari penjualan aset lahan Atlantic Carbon Group (ACG), penurunan beban depresiasi dan amortisasi sebesar 19,3 juta dolar AS, serta keuntungan selisih kurs bersih yang meningkat 11 juta dolar AS.

Meski demikian, perusahaan masih menghadapi tekanan akibat investasi di 29Metals yang memberikan dampak negatif sekitar 14,5 juta dolar AS terhadap kinerja keuangan.

BUMA juga berhasil memangkas belanja modal (capital expenditure/capex) menjadi 37 juta dolar AS, turun tajam 67 persen dibandingkan 111 juta dolar AS pada semester I 2025. Penurunan tersebut dilakukan melalui optimalisasi armada serta pengalihan aset dari lokasi tambang yang telah berhenti beroperasi.

Sebagian besar belanja modal tahun ini difokuskan pada pemeliharaan armada guna menjaga keandalan operasional dan mendukung keberlangsungan bisnis.

Efisiensi tersebut turut mendorong peningkatan arus kas bebas (free cash flow) yang melonjak menjadi 39 juta dolar AS, jauh lebih tinggi dibandingkan 5 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.

Iwan menegaskan berbagai langkah efisiensi yang diterapkan selama setahun terakhir mulai menunjukkan hasil positif, meskipun industri masih menghadapi tekanan akibat penurunan pendapatan dan lonjakan harga bahan bakar.

Memasuki semester kedua 2026, BUMA menargetkan mempertahankan momentum perbaikan operasional dengan menjaga disiplin biaya, mengoptimalkan penggunaan modal, serta mengelola risiko kenaikan harga bahan bakar guna memperkuat arus kas perusahaan.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

BUMA International Perkuat Kinerja, EBITDA Semester I 2026 Naik 8 Persen Meski Pendapatan Turun | Monitor Indonesia